Penelitian Islam: Dasar dan Filosofi (PDF Download Available)

March 16, 2018 | Author: Anonymous | Category: Documents
Share Embed


Short Description

Dec 18, 2017 - kerajaan Safawi di Persia, dan kerajaan Mughal di India. 2 ... penelitian modern akan dipaparkan dalam pe...

Description

ISSN : 1829-8257 IAIN Palangka Raya

100

Penelitian Islam: Dasar dan Filosofi Marzuki STAIN Malikussaleh Lhokseumawe-Aceh [email protected] Abstract This article is a continued understanding of some thoughts delivered by the Islamic study experts. Actually, Islamic study orientation is still floating and it does not have a clear goal. Some parts of Islamic study is model or a similar effort done by orientalists in studying Islam, and in line with the vision and the mission starting from false conclusion about Islam. Therefore, Islamic study experts in the earlier awakening of Islam such as Al-banna, al-maududi, Ismail Raji al Faruqi, Ziauddin sardar, and Muhammad Naquib al-Attas have offered various thoughts in implementing the framework of Islamic study in line with the vision and the mission of Islam so that their mindset becomes the basis for development of Islamic study. Keywords: the basis of Islamic study, development of Islamic study

A. Pendahuluan Kebangkitan Islam bukanlah sebuah mimpi, ini terbukti dengan kebangkitan kembali pemikiran Islam. Berfikir dan meneliti, yang dulu pernah dilakukan oleh para ulama Islam, kembali terlihat di dalam dunia Muslim, ini merupakan indikasi bahwa Islam akan kembali bangkit dari keterpurukannya, baik dalam bidang agama, sains, maupun teknologi. Keadaan ini merupakan buah usaha dari para pemikir Islam pada awal mula kebangkitan kembali Islam. Para tokoh Islam ini berjuang sepenuhnya untuk mengembalikan kembali ruh keilmuan Islam yang sekian lama telah terkubur. Mereka optimis, bahwa Islam akan bangkit kembali, karena islam pernah berjaya, dan menjadi Super Power di dunia dan Ia akan kembali. Ide utama yang ditawarkan oleh para pemikir Islam tersebut, untuk kebangkitan Islam adalah dengan menggiatkan kembali para ilmuan Islam dengan kegiatan berfikir dan research. Islamic Research merupakan program inti dari tawaran mereka. B. Kajian Pustaka Sebenarnya, perdebatan tentang riset dan pengembangan metodologi dalam perspektif Islam telah menjadi diskusi hangat dalam dua dekade ini.

Jurnal Studi Agama dan Masyarakat

Volume 12, Nomor 1, Juni 2016

ISSN : 1829-8257 IAIN Palangka Raya

101

Pengantar ini merupakan sebuah kajian ulang terhadap apa yang telah dihasilkan oleh para sarjana muslim sejak tahun 1930 M. Sampai sekarang belum ada sebuah titik temu dalam diskursus metodologi dalam perspektif Islam. Para sarjana muslim,

khususnya

para

pemikir

telah

menawarkan

bermacam-macam

pemikirannya dalam usaha kebangkitan Islam. Mulai dari pemurnian tauhid, reformasi pemikiran dan islamisasi pengetahuan. Setelah melalui masa-masa keemasannya, Islam sempat berada dalam masa-masa kritis, terutama dalam masa setelah runtuhnya kerajaan Islam Spayol. Umat Islam mengalami ketinggalan jauh, bahkan banyak negara-negara muslim yang dijajah oleh Barat. Ini disebabkan negara-negara muslim pada saat itu rendah dihadapan mereka, karena kebanyakan negara-negara muslim telah kehilangan kekuatannya, khususnya lemahnya ilmu pengetahuan modern. Nasution dalam bukunya “Pembaharuan dalam Islam” membagi sejarah Islam kepada tiga periode, yaitu klasik, pertengahan dan modern1. Periode klasik (650-1250 M) merupakan masa kejayaan dan kemajuan ilmu pengetahuan umat Islam, baik dalam bidang agama maupun non-agama. Pada zaman inilah munculnya beberapa ulama besar dalam Ilmu Tafsir, Hadits, Fiqh, Tauhid dan Tasawuf, Fisika, Kedokteran, Filsafat dalam dunia Islam. Periode pertengahan (1250-1800) merupakan masa disintegrasi umat Islam, pertikaian Sunni dan Syiah, runtuhnya kerajaan Islam Spayol dan pecahnya kerajaan-kerajaan Islam menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Walaupun pada abad pertengahan ini Islam sempat bangkit kembali dengan munculnya tiga kerajaan besar (1500-1800), yang sempat menjadi super power saat itu, yaitu Kerajaan Turki Usmani di Turki, kerajaan Safawi di Persia, dan kerajaan Mughal di India2. Selanjutnya, periode Modern. (1800-seterusnya) merupakan zaman kebangkitan umat Islam. Jatuhnya Mesir ke tangan barat menginsafkan dunia Islam akan kelemahannya dan menyadarakn umat Islam bahwa di Barat telah timbul peradaban baru yang lebih tinggi dan merupakan ancaman bagi Islam. Raja-raja dan para pemuka Islam mulai memikirkan bagaimana meningkatkan 1

Nasution, Harun. 1996. Pembaharuan dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang. Ibid

2

Jurnal Studi Agama dan Masyarakat

Volume 12, Nomor 1, Juni 2016

ISSN : 1829-8257 IAIN Palangka Raya

102

mutu dan kekuatan umat Islam kembali, di periode modern inilah timbulnya ideide pembaharuan dalam Islam3. Sejak saat itu, maka muncullah beberapa tokoh Islam yang telah menyadari apa yang telah menimpa umat Islam, sehingga mereka menjadi para perintis untuk kebangkitan Islam selanjutnya. Mereka itu antara lain Al-Afghani, Al-Al-Banna, Sayyid Qutb, Iqbal, Al-Maududi dan lain-lain. Pemikiran dan ide mereka terutama dalam usaha pengembangan pengetahuan dan penelitian modern akan dipaparkan dalam pembahasan makalah ini. Kebangkitan ilmu pengetahuan kontemporer dalam dunia Islam tidak terlepas dari peran aktif mereka dalam menyadarkan umat Islam saat itu. Walaupun demikian, hingga saat ini umat Islam masih dalam perdebatan dan diskusi yang panjang tentang usulan harus adanya penelitian dan pengembangan sebuah metodologi dalam perspektif Islam. Inilah yang akan menjadi bahasan pokok dalam makalah ini. Diharapkan dengan pembahasan ini, kita dapat mengambil kesimpulan yang akan meringankan tuntutan terhadap adanya riset dan metodologi dalam perspektif Islam Islam adalah sebuah kebenaran dan jalan hidup yang benar. Ini benar datangnya dari Allah SWT, dan benar bahwa nabi Muhammad SAW telah menerima al-Qur‟an yang merupakan wahyu dari Allah SWT untuk menjadi pedoman hidup umat manusia yang harus dilaksanakan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, kapanpun, dan di manapun. Oleh karena itu, al-Qur‟an mengandung perintah dan bimbingan untuk dijadikan prinsip dalam kehidupan sosial. Sunnah merupakan penjelas dari al-Qur‟an. Apapun yang termaktum dalam sunnah Nabi adalah tafsir dari al-Qur‟an, yang akan menerangkan implikasi alQur‟an dalam konteks kehidupan. Seorang muslim selalu dituntut untuk senantiasa menegakkan ajaran Islam yang berdasarkan al-Qur‟an. Al-Qur‟an tidak dapat diubah atau digantikan dengan yang lain, walau satu huruf, Ia berasal dari tuhan yang Maha Suci. Ia akan senatiasa cocok dengan perkembangan kehidupan manusia, sekali lagi karena ia berasal dari yang Maha Mengetahui. Antara alQur‟an dan perkembangan dapat dianalogikan kira-kira seperti sebuah produk yang memerlukan cara pendistruibusian kembali, sesuai dengan permintaan. 3

Ibid

Jurnal Studi Agama dan Masyarakat

Volume 12, Nomor 1, Juni 2016

ISSN : 1829-8257 IAIN Palangka Raya

103

Menurut Nejatullah, untuk kebangkitan Islam, sangat diperlukan adanya proses penyesuaian diri, dan pengaturan kembali sebuah bentuk intitusi sosial dan material. Ini sangat penting untuk memelihara prinsip ajaran Islam. Menurut nejatullah, ada dua tipe dari pengaturan kembali yang dimaksudkan tersebut, yaitu: menghargai norma dan nilai, dan mencoba perubahan kondisi materi4. Ini semua diwujudkan dengan adanya keseimbangan antara kehidupan spiritual dan material. Setiap aktivitas keduniaan, selalu dibarengi dengan konsep kehidupan akhirat. Semua aspek kehidupan dunia, tidak pernah terlepas dari aspek akhirat, sehingga kehidupan liberal tidak dibenarkan oleh ajaran Islam. Ajaran Islam mencakup semua aspek kehidupan dunia, baik perekonomian maupun politik.Dalam usaha untuk kebangkitan Islam kontemporer, kita sangat membutuhkan sebuah kreativitas penelitian, yaitu dalm kemasan Islamic Risearch. Hal ini harus dilakukan dengan pengorganisasian kembali ajaran dasar Islam yang pernah mandeg dan ditafsirkan hanya dalam koridor keakhiratan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kemundurun umat Islam, pada masa abad Pertengahan, antara lain: pertama, Isu pintu ijtihad tertutup telah meluas di kalangan umat Islam, berpalingnya pikiran untuk menggali secara langsung pada sumber pertama dan utama (al-Qur‟an dan hadits) apabila menemukan persoalan baru, pikiran hanya dipusatkan untuk kepentingan mazhab, praktek mazhab, dan ta‟asub terhadap mazhab tertentu demikian suburnya, perhatian terhadap ilmu mulai berkurang, dan kehidupan tarekat dengan pengaruh negatifnya tersebar, persaudaraan sufi telah memikat orang banyak, hampir di semua tempat di dunia Islam5. Kedua, Keutuhan umat Islam mulai pecah, kekuasaan khlifah menurun, pemikiran akan adanya mayarakat islam yang berbentuk persatuan dan kesatuan dalam seiman telah pindah, tidak ada satu ikatan di dalamnya kecuali nama dan tatanan, umat Islam terpecah belah dan saling bermusuhan. Masyarakat Islam berubah, kerajaan Islam telah mewariskan

4

Muqim, Muhammad (Ed.). 1994. Research Methodology In Islamic Perspective. New Delhi: Institute of Objective Studies. 5

Asmuni, Yusran. 1998. Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan Dunia Islam. Jakarta: PT. Grafindo Persada.

Jurnal Studi Agama dan Masyarakat

Volume 12, Nomor 1, Juni 2016

ISSN : 1829-8257 IAIN Palangka Raya

104

kota-kota dan kerajaan yang telah bertikai selama berabad-abad dan dalam sekejab mata sejarah kemanusiaan telah dirobek-robek oleh kelemahan strategi politik, beginilah akibat kelemahan. Ketiga, adanya perang salib di bawah arahan Gereja Katolik Roma, dan serbuan tentara Barbar di bawah kepemimpinan Hulago Khan dari Taratar. Kota Baghdad dirampas dan dihancurkan pada tahun1258 M. Sehingga Khalifah sebagai lambang kesatuan politik umat Islam,hilang6. Dari ketiga faktor di atas, yang menjadi penyebab utama adalah kemunduran spirit yang menimpa kaum muslimin. Umat Islam tidak lagi menggunakn pikirannya sebagaimna pemikir-pemikir sebelumnya melakukan ijtihad, untuk menggali sumber yang asli kepada al-Qur‟an dan Hadits Nabi.

Masa kemunduran ini

berlangsung berabad-abad lamanya hingga muncul gerakan pemikiran yang dikumandangkan oleh pelopor-pelopor pembaharuan, seperti Ibn Taimiyah dengan muridnya ibn Qayyim, Muhammad ibn Abdul Wahab, Muhammad ibn Ali Sanusi al-Kabir dan lain-lain. Pada periode klasik, perdebatan tentang kerangka keilmuan dalam Islam telah menjadi perdebatan. Misalnya apa yang di tentang oleh al-Ghazali dalam karyanya Tahafut al-Falasifah. Al-Ghazali memberikan kritikan yang tajam terhadap para filosof yang menurutnya telah terlalu jauh dari pemikiran-pemikiran Islam dan Ibn Taimiyyah mengutuk pemikiran Yunani Kemudian pada periode pertengahan, Ibn Rusyd membantah semua tuduhan al-Ghazali tersebut dalam karangannya Tahafut at-Tahafut. Hingga sepanjang sejarah, kedudukan filsafat dalam Islam masih menjadi perdebatan di kalangan ulama Muslim. Selanjutnya diantara abad ke- 14 dan 18 di India muncul beberapa ulama besar seperti Syeikh Ahmed Sirhindi, Syeikh Ismaiel Syaheed dan Syah Wali Allah. Mereka menolok semua konsep dan budaya dari luar Islam, mereka sangat genjar mengajak untuk jihat menentang budya luar. Dia membersihkan unsurunsur Hindu dalm Islam, mengutuk taqlid buta (blind taqlid) dan menganjurkan Ijtihat. Kemudian selama abad ke- 19, Ibn Abd Wahab muncul sebagai ulama yang sangat gencar melawan syirik, ia menganjurkan kembali kepada syariah 6

Ibid

Jurnal Studi Agama dan Masyarakat

Volume 12, Nomor 1, Juni 2016

ISSN : 1829-8257 IAIN Palangka Raya

105

yang sebenarnya (al-Qur‟an dan Hadits). Disamping beliau, pada abad ini juga muncul tiga ulama dan pemimpin yang terkenal, yaitu Jamal al-Din al-Afghani, muhammad

abduh

dan

Rasyid

Ridha.

Mereka

menetang

sekularisme,

nasionalisme dan materialisme. Selama hidupnya, mereka juga sangat gencar menentang syirik dan menganjurkan Ijtihat. Dalam abad ke-20, terkenal beberapa ulama dan pemimpin Muslim yang juga sangat menentang syirik, dan menganjurkan jihat untuk menentang sekularisme dan westernisasi di dunia Islam. Yaitu Iqbal, Hasan al-Banna, Syyid Qutb dan sayyid Abul Ala al-Maududi7. Berikut ini kita akan melihat beberapa pandangan dan krontribusi mereka dalam pergerakan ilmu pengetahuan dalam dunia Islam. C. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif yakni suatu metode yang menganalisis data suatu objek kajian, kemudian mendeksripsikannya sesuai hasil analisis data tersebut D. Pembahasan Muhammad Iqbal adalah seorang filosof Islam yang berpendapat bahwa sains sebaiknya dikembangkan oleh orang-orang Islam, kemudian dikenalkan kepada Barat dengan pendekatan al-Qur‟an. Dia hanya percaya bahwa kebangkitan umat Islam tergantung pada penguasaan research dan pengembangan ilmu pengetahuan yang berbasis al-Qur‟an. Dalam bukunya Reconstruction of Religious Thought in Islam (1968), Iqbal menegaskan bahwa sebenarnya umat Islam akan bangkit hanya dengan rekonstruksi kehidupan dalam segala bidang. Hal lain yang sangat penting menurut Iqbal adalah menemukan sebuah metodologi dan penelitian dengan pendekatan kritis terhadap cara fikir manusia. Hasan al-Banna adalah pendiri Ikhwanul Muslimin, sekaligus beliau adalah pimpinan Ikhwanul Muslimin. Beliau dan organisasi Ikhwanul Musliminnya tidak hanya menentang ideologi, konsep, dan teori Barat tetapi juga pemerintahan mereka. Dalam perpolitikan dunia Islam beliau mendapat pengaruh yang besar, terutama pada masa penjajahan beberapa negara muslim oleh Barat. Ia 7

Ali, Mumtaz (Ed.). 1996. Conceptual And Methodological Issues In Islamic Research. Kuala Lumpur: Dewan Pustaka dan Bahasa.

Jurnal Studi Agama dan Masyarakat

Volume 12, Nomor 1, Juni 2016

ISSN : 1829-8257 IAIN Palangka Raya

106

menekankan sangat pentingnya Imamah (kepemimpinan), oleh karena itu Ikhwanul Muslimin juga berkonsentrasi dalam mengembangkan fikrah Islamiah (berfikir islami), untuk menuju ke perubahan sosial-politik. Menurutnya, semua Nabi dan Rasul menerima risalah yang sama, yaitu tauhid, “tidak ada tuhan kecuali Allah”. Inilah yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul. Begitu juga yang diharus dibawa oleh para penerus setelah Rasulullah SAW, muali dari para sahabat hingga sampai kepada ulama-ulama setelah mereka. mereka semua berusaha untuk menyatukan pemikiran islami dan politik dalam kepemimpinan. Selain itu, kita juga menemikan sebuah gerakan kritis terhadap konsep dan teori Barat yang berusaha untuk mengembalikan kembali identitis Islam dalam sains dan ilmu sosial. Ini dikenal dengan “Islamisasi Pengetahuan”. Membangun “Peradaban Islam” merupakan tujuan semua pergerakan Islam. Kontribusi yang paling penting dari Hassan al-Banna adalah melawan “westernisasi ideologi”, “tidak ada Tuhan selain Allah”. Setelah hasan al-Banna Syahid, Ikhwanul muslimin tetap eksis menjalankan misi dakwahnya dalam berbagai bidang. Merujuk pada surah al-Alaq, beliau menyatakan bahwa semua ilmu pengetahuan, baik pada masa lalu, sekarang, dan yang akan datang adalah datang dari Allah, Allah yang mengajarkannya. Manusia memiliki akal dan pengalaman yangsangat terbatas, Allah adalah pemilik segala-galanya. Dialah yang memiliki kekusaaan Mutlak. Al-Qur‟an merupakan wahyu dari Allah, dengan demikian akal pikiran kita serta konsep-konsep rasional kita senantiasa berdasarkan al-Qur‟an. Pemahaman adalah akhir dari sebuah ilmu pengetahuan. Tanpa adanya pemahaman, interaksi dan aksi tidak lengkap. Dengankata lain, ilmu pengetahuan menurut Sayyid Qutb adalah pemahaman dan aksi, sedangkan interaksi berada diantara pemahaman dan aksi. Baginya, ilmu pengetahuan adalah kesatuan pikiran dan aksi. Kesatuan fikiran dan aksi adalah bersatunya jiwa dan raga. Selain itu, Sayyid Qutb sangat tegas mengajak seluruh umat Islam untuk ijtihat, dan jihat untuk memerangi segala bentuk ideologi diluar Islam. Dia menegaskan

bahwa

sangat

penting bagi

umat

Islam

untuk

menjaga,

mempertahankan Ideologi Islam, “tidak ada Tuhan selain Allah”.

Jurnal Studi Agama dan Masyarakat

Volume 12, Nomor 1, Juni 2016

ISSN : 1829-8257 IAIN Palangka Raya

107

Sayyid abu Ala maududi adalah pendiri Jammah Islamiah, didirikan di India tahun 1941, yang menganjurkan jihat dengan analisis Islam terhadap konsep dan teori Barat. Hampir sama dengan al-Banna, beliau juga mempunyai pegangan, bahwa semua Nabi dan Rasul menerima risalah yang sama. Menurutnya, menegakkan khalifah di muka Bumi adalah sangat penting, seperti yang telah dilakukan oleh para nabi dan Rasul, tentunya sesuai dengan konteks. Pengembangan sosial-politik dan ekonomi dan berbagi bidang lainnya adalah sangat penting dalam usaha membangun peradaban Islam. Ini ditunjukkan oleh Maududi dengan terjun langsung secara aktif dalam dunia politik. Ini adalah hal yang dulunya sangat ditakutkan oleh para ulama-ulama yang memisahkan antara politik dan agama. Kaum muslimin tidak hanya menganjurkan ijtihat tetapi melakukan ijtihat. Seperti apa yang dilakukan oleh para pembaharu lainnya, beliau juga berusaha mencurahkan fikirannya untuk kebangkitan Islam. Al-Maududi menyadari bahwa sekulerisme dan westernisme sangat berbahaya bagi pemuda Islam. Ia mengutuk pendidikan yang mengaadopsi gaya pendidikan Barat yang membagi kedalam sekular dan agama, sebagai “pembunuhan” kaum muda Islam. Menurutnya, kemimpinan dalam umat Islam harus ditata menurut Islam. Menurutnya, hal ini tidak akan terwujud tanpa adanya pendidikan yang berdasarkan sistem Islam dan yang pastinya sangat diperlukan riset dan ijtihat dalam semua bidang ilmu pengetahuan. Para pemikir memandang strategis untuk memberi prioritas yang besar dan utama terhadap pengembangan ilmu demi memecahkan problem diatas. Kalangan ilmuan Muslim merasa perlu melakukan revitalisasi peradaban (ilmu pengetahuan) dengan langkah: “Islamisasi ilmu”. Dalam bahasa Arab disebut sebagai “Islamiyyat al-Ma’rifat” dan dalam bahasa Inggris “Islamization of Knowledge”. Gagasan Islamisasi ini dipelopri oleh Islamil Raji al Faruqi. dengan lontaran gagasannya melalui Islamization of Knowledge dalam The First International conference of Islamic Thought dan Islmization of Knowledge (Islamabad, 1982) dengan judul :”Islamization of Knowledge: General Prinsiples and Work Plan”. Ia juga mendirikan The International Institute of Islamic Thought (IIIT) pada tahun 1981 di Washington. Mengenai pemaknaan Islamisasi

Jurnal Studi Agama dan Masyarakat

Volume 12, Nomor 1, Juni 2016

ISSN : 1829-8257 IAIN Palangka Raya

108

pengetahuan sampai sekarang masih dalam perdebatan, tokoh-tokoh yang memiliki pandangan yang berbeda tentang Islamisasi pengetahuan ini dapat diwakili oleh Islmail Raji al Faruqi, Ziauddin Sardar dan Fazlur Rahman, dan Muhammad Naquib al-Attas. Al-Faruqi menyatakan bahwa pengetahuan modern menyebabkan adanya pertentangan wahyu dan akal dalam diri umat Islam, memisahkan pemikiran dari aksi, serta adanya dualisme kultural dan religius. Karena itu diperlukan Islamisasi ilmu dan upaya itu harus beranjak dari tauhid. Ilmu pengetahuan Islami selalu menekankan adanya kesatuan alam semesta, kesatuan kebenaran dan pengetahuan serta kesatuan hidup.

Islamisasi

Pengetahuan sebenarnya merupakan satu tugas yang serupa sifatnya dengan tugas yang pernah dimainkan oleh nenek moyang kita yang mencerna ilmu zaman mereka dan mewariskan kepada kita peradaban dan kebudayaan Islam, walaupun ruang lingkupnya kini lebih luas. Sehingga pengertian Islamisasi Pengetahuan bagi Al-Faruqi adalah penguasaan semua disiplin Modern dengan sempurna, melakukan integrasi dalam utuhan warisan Islam dengan eliminasi, perubahan, penafsiran kembali dan penyesuaian terhadap komponen-komponen pandangan dunia Islam dan menetapkan nilai-nilainya Fazlur Rahman menanggapi ide ini dengan pendapat yang berbeda. Fazlur Rahman berpendapat bahwa kita tidak perlu melakukan Islamisasi ilmu. Yang perlu kita lakukan adalah menciptakan atau menghasilkan para pemikir yang memiliki kapasitas berpikir konstruktif dan positif. Tampaknya Rahman sangat mementingkan untuk menghasilkan manusia-manusia yang mempunyai kapasitas keilmuan yang cukup baik dan dengan begitu sacara otamatis akan dihasilkan manusia yang mampu menghasilkan karya secara nyata. Ziauddin Sardar juga sepakat dengan usulan Al Faruqi meski berbeda mengenai langkah-langkahnya. Menurut Sardar langkah yang harus dilakukan adalah dengan membangun pandangan dunia (world view) Islam dengan titik pijak utama membangun epistemologi Islam. Sardar justru menghawatirkan dengan langkah Al Faruqi malah adalah westernisasi Islam, bukan Islamisasi pengetahuan. Hal senada juga disampaikan oleh Muhammad Naquib al-Attas, intelektual yang di masa kini menjadi salah satu menara keilmuan Islam modern. Proyek

Jurnal Studi Agama dan Masyarakat

Volume 12, Nomor 1, Juni 2016

ISSN : 1829-8257 IAIN Palangka Raya

109

besarnya itu dikemasnya dalam „Islamisasi Ilmu Pengetahuan‟ melalui lembaga pendidikan yang ia dirikan, yakni International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC), Kuala Lumpur, Malaysia. Menurut beliau mengislamkan ilmu bukanlah pekerjaan mudah seperti labelisasi. Selain itu, tidak semua dari Barat berarti ditolak, karena terdapat sejumlah persamaan dengan Islam seperti disebutkan diatas. Oleh sebab itu, seseorang yang mengislamkan ilmu, perlu memenuhi pra-syarat, yaitu ia harus mampu mengidentifikasi pandangan-hidup Islam (the Islamic worldview) sekaligus mampu memahami budaya dan peradaban Barat. Namun demikian, tugas integrasi ini sama tidak berarti percampuran elektik dari Islam klasik dan pengetahuan Barat modern, tetapi lebih sebagai suatu reorientasi sistematis dan restrukturisasi seluruh bidang pengetahuan kemanusiaan sesuai dengan sejumlah kategori dan kriteria-kriteria yang baru, yang diderivasikan dari dan didasarkan pada pandangan dunia Islam. Keberatan atas pengembangan suatu metodologi Islam baru dikemukankan oleh al-Buti. Menurutnya, muslim kontemporer tidak perlu bersusah-susah menemukan metode pengetahuan yang handal karena menurut al-Buti, penemuan itu telah dilakukan oleh muslim-muslim awal di era “keemasan Islam”. Mengenai peran kesarjanaan Islam kontemporer dalam kaitannya dengan metodologi ilmiah, al-Buti mengajukan dua program yang dengannya sarjana-sarjana muslim kontemporer bekerja. Pertama, mengorganisasikan kembali metode yang telah ditemukan guna menjadikannya lebih responsif terhasap kebutuhan-kebutuhan yang ada, dan kedua, menuangkan kembali ke dalam bahasa kontemporer, sehingga, sekali lagi, metode itu dapat mengarahkan wacana muslim. Adanya keseimbangan antara spiritual dan materi dalam Islam menunjukkan bahwa Islam memiliki sebuah sistem yang jelas. Ketika kedua sistem itu dijalankan dengan tidak seimbang, maka akan terjadi kekacauan dalam proses perkembangan materi. Tujuan akhir dari sebuah spiritualitas Islam adalah Ridha Ilahi. Oleh karena itu, dalam Islam sangat ditekankan adanya keseimbangan antara perbuatan dunia dan akhirat untuk mencapai ridha ilahi. Dalam Islam tidak dianjurkan untuk hanya memikirkan kehidupan akhirat saja, mengabaikan kehidupan dunia. Begitu juga sebaliknya, Islam sangat mengecam

Jurnal Studi Agama dan Masyarakat

Volume 12, Nomor 1, Juni 2016

ISSN : 1829-8257 IAIN Palangka Raya

110

orang-orang yang hanya memikirkan kehidupan dunia, mengabaikan tujuan kehidupan yang sebenarnya, yaitu beribadah untuk mengharap ridha Ilahi, mencapai kehidupan yang kekal di akhirat nanti. Tidak banyak buku yang bisa ditemukan yang menulis tentang Islamic Research, tetapi banyak tulisan-tulisan para pemikir Islam yang mulai mengarah kepada hal tersebut, seperti yang telah dikemukan di atas, al-Banna, al-Maududi, Sayid Qutub, Iqbal dan lain-lain. Sebuah buku tentang penelitian Islam, berjudul “ Metode Riset Islami” diterjemahkan dari buku aslinya yang berjudul Nahwa Manhaj Buhuts Islami, karangan Ali Abdul Halim Mahmud. Buku ini belum memberikan arah secara jelas, karena nampaknya yang beliau maksudkan adalah istilah penelitian islami. Buku yang sudah membahas tentang metodologi Islam ialah “The Foundation of Knowledge: A Comparatie Study In Islamic and Western Methods of Inquiry”, karangan Louay Safi, seorang dosen di International Islamic University Malaysia yang kemudian diterjemahkan oleh Imam Khoiri dengan Judul Ancangan Metodologi Alternatif (Sebuah Refleksi Perbandiingan Metode Penelitian Islam Dan Barat). Buku ini dibagi kedalam empat bagian dan terdiri dari tujuh bab. Seperti kita lihat dalam judul aslinya, buku ini merupakan study komperatif yang mencoba membandingkan antara metode-metode Islam dan Barat serta menelusuri sebuah metode yang lebih sesuai dengan persoalan-persoalan dan norma-norma Islam, sebagaimana Louay Safi menyebutnya dengan metode alternatif: suatu pendekatan padu. Seperti yang dikatakan Louay Safi dalam pendahuluannya, setidaknya buku ini memiliki dua tujuan pokok. Pertama, membahas metode-metode research

dan

pendekatan-pendekatan

metodologis

yang

terkait

dengan

mainstream kesarjanaan baik dalam tradisi keilmuan muslim klasik maupun Barat modern. Tujuan pembahasan ini tidak hanya memahami metode-metode yang mempengaruhi perkembangan tradisi-tradisi muslim dan Barat, tetapi menilai sejauhmana metode-metode itu dapat dimasukkan ke dalam sebuah metodologi Islam modern yang mampu menjawab persoalan-persoalan sosial dan intelektual

Jurnal Studi Agama dan Masyarakat

Volume 12, Nomor 1, Juni 2016

ISSN : 1829-8257 IAIN Palangka Raya

111

masyarakat modern. Oleh karena itu, gambaran umum metodologi Islam alternatif merupakan tujuan kedua dari studi ini8. Dalam analisisnya para intelektual muslim saat ini menggunakan dua metode. Pertama, bersumber dari tradisi barat, Walaupun demikian, metodemetode tersebut menjadi masalah serius bagi intelektual-intelektual muslim. Karena barat tidak mengakui wahyu Islam sebagai sumber pengetahuan yang benar. Kedua, metode yang dibangun oleh sarjana-sarjana muslim klasik. Metodemetode muslim klasik pada dasarnya terfokus pada pemahaman teks-teks suci dan menerapkan aturan-aturan hukumnyadalam mengarahkan tindakan individual, dan merekontruksi interaksi sosial. Sarjana-sarjana muslim klasik kurang tertarik pada studi prilaku sosial yang tidak terdapat dalm norma-norma wahyu. Oleh karena itu studi dalam buku ini bertujuan untuk menanggulangi kelemahan baik yang terdapat

dalam

metode-metode muslim

maupun barat

modern

dengan

mensintesakan beberapa elemen yang dibangun dari kedua tradisi tersebut. Kesatuan model ini walalupun dibangun berdasarkan capaian tradisi muslim dan Barat, namun tidak dimaksudkan untuk mengharmonisasikan antara dua tradisi tersebut, tetapi mengintegrasikan pengetahuan yang diperoleh dari wahyu dengan pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman manusia. Penelitian Islami berbeda dengan istilah penelitian keislaman. Penelitian Islami adalah penelitian yang dilakukan dengan bermacam metode dan pendekatan, dan dilakukan dengan memeperhatikan kaedah-kaedah keislaman9. Sedangkan Penelitian Islam atau penelitian keislaman adalah penelitian yang berusaha melakukan sebuah usaha penemuan atau pengembangan dalam lingkup dan aspek keislaman, sehingga hasilnya dapat digunakan untuk kemajuan Islam di berbagai belahan dunia. Sasaran dari Islamic research adalah mengembangkan penelitian atau kajian keislaman seperti yang diusulkan oleh para pemikir Islam. Selama ini dalam kajian Islam sendiri masih banyak yang hanya menggunakan satu 8

Louy Safi, 2001. Ancangan Metodologi Alternatif, Yogyakarta: LKiS.

9

Mahmud, Ali Abdul Halim. 1992. Metode Riset Islami; Terjemahan oleh Daud Rasyid, dari Nahwa Manhaj Buhuts Islami (1989). Jakarta: Usamah Press.

Jurnal Studi Agama dan Masyarakat

Volume 12, Nomor 1, Juni 2016

ISSN : 1829-8257 IAIN Palangka Raya

112

pendekatan dalam mempelajari Islam, yaitu hanya dengan pendekatana teologis normative, sehingga Islam hanya dimaknai secara konsep ketuhanan saja, melihat sesuatu hanya sebuah perintah tuhan, tidak ada kaitannya dengan kehidupan manusia di dunia ini. Tanpa disadari, ini membawa umat Islam ke arah sekularisme, memisahkan agama dengan urusan keduniaan. Bila landasannya hanya teologis normatif, maka umat Islam hanya beribadah untuk melepaskan kewajibannya sebagai hamba. Padahal dibalik setiap apa yang diperintahkan oleh Allah swt. terdapat hikmah yang bila dikaji dengan pendekatan filsafat. Ini bukan berarti membagi Islam kedalam berbagai kategori sesuai pendekatan, tetapi hal ini dilakukan untuk memperkaya pemahaman terhadap ajaran Islam yang sangat lengkap dan selalu sesuai sepanjang zaman. Tidak juga sebuah upaya penafsiran kembali, tetapi hanya memperbanyak metode dan pemahaman sesuai dengan kebutuhan umat, karena al-Quran memilki pemahaman yang sangat luas, selalu sesuai dengan konteks dan zaman. Sehingga kajian-kajian Islam harus mengembangkan pendekatan studinya dengan berbagai pendekatan yang dapat mewakili setiap sendi kehidupan manusia, segi filsafat, sosiologi, antropologi, psikologi, budaya dan sains untuk mewujudkan misi Islam “rahmatan lil ‘alamin”. Islam adalah rahmat bagi seluruh jagad raya ini, misi ini tidak akan terwujud tanpa perubahan dengan menggunakan pendekatan dan metode yang tepat. Sasaran kajian yang diharapakan adalah kajian Islam komprehensif, kajian yang tidak hanya terbatas pada aspek ilmu-ilmu keislaman, tetapi kajian Islam harus masuk ke semua ilmu. Realita para ilmuan Islam sekarang masih terkukung dalam keimuan yang sekuler, berada dalam dikotomi keilmuan. Masing-masing ilmuan masih memisahkan antara ilmu dan Islam, ini dibuktikan oleh masih sedikitnya para pakar yang tampil berbicara sebuah bidang keilmuan sains dengan konsep Islam. Misalnya, seorang ahli fisika, biologi, dan kimia mengkaji dan memadukannya dengan konsep-konsep ilmu pengetahuan dalam al-Quran. Begitu juga para pakar ilmu-ilmu keislaman, diharapkan tidak hanya membahas masalah fiqh, tasawuf,dan ilmu kalam dengan satu pendekatan, hendaknya dikaji dan dikaitkan dengan berbagai rumpun keilmuan lainnya, sesuai dengan konteks.

Jurnal Studi Agama dan Masyarakat

Volume 12, Nomor 1, Juni 2016

ISSN : 1829-8257 IAIN Palangka Raya

113

Karena masalah-masalah tersebut tidak akan terlepas dari sosio-cultural masyarakat, sehingga dengan penguasaan berbagai diharapkan dapat menjawab berbagai persoalan dalam masyarakat. Dasar dari Islamic Research adalah Spiritualitas, betapapun orang telah memiliki kemampuan dan kekayaan material, tidak akan dapat mengantarkannya dalam kerangka keberhasilan menurut Islam. Setiap detik kehidupan seorang Muslim terdapat nafas Ilahiyah, ia sentiasa terikat dengan keyakinan kepada Allah, tidak ada Tuhan selain Alah dan Muhammad adalah Utusan Allah E. Kesimpulan Orientasi studi Islam sekarang masih dalam tahap pengembangan dan belum memiliki sasaran yang jelas. Sebagian dari studi Islam sekarang adalah model peninggalan atau bahkan adalah sebuah usaha yang sama dengan apa yang telah dilakukan oleh para orientalis dalam mempelajari Islam, dengan visi dan misi mereka yang kebanyakan berangkat dari kesimpulan yang salah terhadap Islam. Oleh karena itu para pemikir Islam perlu mewujudkan kerangka studi Islam yang sejalan dengan visi dan misi Islam sendiri. Selanjutnya hal yang sangat penting adalah merancang paradigma baru dalam kajian keislaman, sehingga memiliki metode dan tujuan yang benar sesuai dengan visi dan misi Islam. Dari metode-metode dan model studi yang telah ada, selain masih menggunakan paradigm-paradigma barat, metode yang ada belum dapat disatukan menjadi sebuah model kajian keislaman, karena masing-masing berangkat dari pemikiran sendiri, belum menjadi sebuah ide bersama. Tetapi setidaknya, usaha-usaha untuk kearah kemajuan Islam telah mulai dirintis, semoga Islam benar-benar menjadi rahmatan lil ‘alamin.

Daftar Pustaka Ali, Mumtaz (Ed.). 1996. Conceptual And Methodological Issues In Islamic Research. Kuala Lumpur: Dewan Pustaka dan Bahasa. Asmuni, Yusran. 1998. Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan Dunia Islam. Jakarta: PT. Grafindo Persada.

Jurnal Studi Agama dan Masyarakat

Volume 12, Nomor 1, Juni 2016

114

ISSN : 1829-8257 IAIN Palangka Raya

Louy Safi, 2001. Ancangan Metodologi Alternatif, Yogyakarta: LKiS. Mahmud, Ali Abdul Halim. 1992. Metode Riset Islami; Terjemahan oleh Daud Rasyid, dari Nahwa Manhaj Buhuts Islami (1989). Jakarta: Usamah Press. Muqim, Muhammad (Ed.). 1994. Research Methodology In Islamic Perspective. New Delhi: Institute of Objective Studies. Nasution, Harun. 1996. Pembaharuan dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

Jurnal Studi Agama dan Masyarakat

Volume 12, Nomor 1, Juni 2016

View more...

Comments

Copyright © 2017 ZILADOC Inc.