makalah agama dan etika islam al-qur\'an sebagai sumber ajaran ...

March 16, 2018 | Author: Anonymous | Category: Documents
Share Embed


Short Description

pdf. MAKALAH AGAMA DAN ETIKA ISLAM AL-QUR'AN SEBAGAI SUMBER .... Al-Qur'an merupakan sumber hukum utama Islam dan pedoma...

Description

MAKALAH AGAMA DAN ETIKA ISLAM

AL-QUR’AN SEBAGAI SUMBER AJARAN ISLAM YANG PERTAMA

Disusun oleh : Kelompok3 Muslih Hakim

11413010

Muhammad Triono

11413008

Abi Dzar Siddiq

11413018

Rifqi Muhammad Rifqi

11213005

Ganjar Ammar A.

11213021

M. Fadholi

11213018

Dzikra Yuhasra

11413019

SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG JATINANGOR 2014

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI .....................................................................................................1 I.

PENDAHULUAN.................................................................................2 1.1 Latar Belakang.................................................................................2

II.

PEMBAHASAN....................................................................................3 2.1 Pengenalan Al-Qur’an......................................................................3 2.2 Sejarah Turun dan Penyusunan Al-Qur’an....................................10 2.3 Fungsi Al-Quran Pada Kehidupan di Dunia..................................14 2.4 Kandungan dan Pokok-Pokok Isi Al-Qur’an.................................18 2.5 Pembuktian Kebenaran Ayat Al-Qur’an Dalam Perspektif Sains dan Teknologi.................................................................................29 2.6 Kelebihan Al-Qur’an dari Segala Kitab.........................................38

III.

KESIMPULAN....................................................................................47

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................48 LAMPIRAN....................................................................................................49 Lampiran 1 : CV..............................................................................................49

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Berbicara tentang Al-Qur’an, takkan pernah ada habisnya. Al-Qur’an mengandung berbagai kisah dari sejarah zaman lampau hingga masa yang akan datang, termuat juga hukum-hukum islam, rahasia alam semesta, serta masih banyak lagi. Al-Qur’an menjadi salah satu mukjizat besar Nabi Muhammad SAW, sebab turunnya Al Qur’an melalui perantara beliau, Al Qur’an mempunyai peranan yang sangat penting untuk keberlangsungan umat manusia di dunia. Betapa tidak, semua persoalan manusia di dunia sebagian besar dapat ditemukan jawabannya pada Al Qur’an. Oleh karenannya kemudian Al Qur’an di yakini sebagai firman Allah yang menjadi sumber ajaran Islam pertama sebelum Hadist. Berbagai macam persoalan hidup manusia solusinya terdapat dalam al qur’an. Maka sudah menjadi kewajiban kita sebagai umat muslim untuk membaca, memahami, dan mengamalkan al qur’an yang merupakan pedoman hidup kita. Pentingnya memahami al qur’an sebagai sumber ajaran islam yang pertama menjadi latar belakang dibuatnya makalah ini.

2

BAB II PEMBAHASAN 2.1 PENGENALAN AL-QUR’AN

1. Pengertian Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah kitab suci bagi umat Islam yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad melalui perantara malaikat Jibril. Al-Qur’an merupakan sumber hukum utama Islam dan pedoman hidup kaum muslim. Al-Qur’an bukan hanya mengajarkan tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga mengajarkan tentang hubungan manusia terhadap sesama manusia dan juga alam. Pengertian Al-Qur’an sangat luas, antara lain :

a. Secara Etimologi Ada beberapa pendapat tentang pengertian Al-Qur’an secara etimologi, antara lain yaitu : 1) Kata “Al-Qur’an” merupakan bentuk masdar dari kata “Qara’a” yang artinya “bacaan”. 2) Kata “Al-Qur’an” merupakan kata sifat dari “Al-Qar’u” yang bermakna “Al-jam’u” yang artinya “kumpulan”. 3) Kata Al-Qur’an merupakan Isim Alam bukan kata bentukan dan sejak awal digunakan sebagai namakitab suci umat Islam.

b. Secara Terminologi Menurut Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah dalam bukunya Al-Madkhal li dirasah al-Qur’an al-karim mengatakan bahwa : “Al-Qur’an adalah firman Allah swt yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw, yang memiliki kemukjizatan lafal, membacanya bernilai ibadah, diriwayatkan secara mutawatir, yang tertulis dalam mushaf, dimulai dengan surat al-fatihah dan diakhiri dengan surat an-Nas.”

3

2. Hakikat Al-Qur’an Al-Qur’an merupakan kitab yang sangat agung. Dia merupakan penyempurna dari beberapa kitab. Namun pada hakikatnya Al-Qur’an bukanlah tulisan ataupun bacaan yang termuat dalam 30 juz Al-Qur’an 114 surat 6666 ayat, melainkan pada makna yang tersirat atau terkandung didalamnya. Adapun tulisan atau bacaan yang termuat di dalam kitab itu tidak ada bedanya dengan buku-buku bacaan biasa. Jadi jika manusia beriman kepada tulisan atau bacaannya sama halnya dengan beriman kepada hal yang fana.

3. Nama - Nama Al-Qur’an Al-Quran merupakan Kalam Allah yang mengandung ayat-ayat Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibrail untuk disampaikan kepada semua manusia. Al-Qur’an merupakan mukjizat yang paling agung yang telah mendapat jaminan dari Allah SWT akan kekal terpelihara. Dan juga terdapat beberapa nama-nama Al-Qur’an yang telah disebutkan oleh Allah dalam kitab-Nya. Nama-nama itu mempunyai ciri-ciri dan kriteria Al-Qur’an itu sendiri. Nama-nama lain Al-Qur’an sangat banyak, antara lain yaitu :

1. Al Kitab ( Kitabullah ) Yang merupakan sinonim dari kata Al-Qur’an artinya, kitab suci sebagai petunjuk bagi orang yang bertaqwa. Perkataan Kitab di dalam bahasa Arab dengan baris tanwin di akhirnya (Kitabun ) memberikan makna umum yaitu sebuah kitab yang tidak tertentu. Apabila ditambah dengan alif dan lamdi depannya menjadi (Al Kitab) ia telah berubah menjadi suatu yang khusus (kata nama tertentu). Dalam hubungan ini, nama lain bagi Al-Qur’an itu disebut oleh Allah adalah Al-Kitab. Nama ini diterangkan dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 2,

         

4

yang artinya : “Kitab ( al-Quran ) ini tidak ada keraguan padanya, (menjadi) petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.”

2. Az-Zikr ( Peringatan ) Allah

SWT

menyebutkan

Al-Qur’an

sebagai

Az-zikr

(Peringatan) karena sebetulnya Al-Qur’an itu senantiasa memberikan peringatan kepada manusia karena sifat lupa yang tidak pernah lepas dari manusia. Manusia mudah lupa dalam berbagai hal, baik dalam hubungan dengan Allah, hubungan sesama manusia maupun lupa terhadap tuntunan-tuntunan yang sepatutnya ditunaikan oleh manusia.Oleh karena itu golongan yang beriman dituntut agar senantiasa mendampingi Al-Qur’an.

Selain

sebagai

ibadah,

Al-Qur’an

itu

sentiasa

memperingatkan kita kepada tanggung jawab kita. Nama ini diterangkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Hijr ayat 9,

        yang artinya : “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan az-zikr ( AlQuran ) dan Kamilah yang akan menjaganya ( Al-Quran ). “

3. Al-Furqan ( Pembeda ) Allah SWT memberi nama lain bagi Al-Qur’an dengan AlFurqan berarti Al-Qur’an sebagai pembeda antara yang haq dan yang batil. Mengenali Al-Qur’an maka kesannya sewajarnya dapat mengenal Al-Haq dan dapat membedakannya dengan kebatilan. Nama ini diterangkandalam Surat Al-Furqan ayat 1,

          yang artinya : “Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (AlQuran) kepada hambaNya (Muhammad).”

5

4. Al-Mauidhah ( Nasihat) Al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah adalah untuk kegunaan dan keperluan manusia, karena manusia senantiasa memerlukan peringatan dan pelajaran yang akan membawa mereka kembali kepada tujuan penciptaan yang sebenarnya. Tanpa bahan - bahan pengajaran dan peringatan itu, manusia akan terlalai dan lupa dari tugasnya karena manusia sering didorong oleh nafsu dan dihasut oleh syaitan dari mengingat dan mentaati perintah Allah. Hal ini sesuai dengan Al-Qur’an surat Al Qamar ayat 22 yang artinya :

        “Dan sungguh Kami telah mudahkan Al-Qur’an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? ( daripada Al-Quran ini ).”

5. Asy-Syifa’ ( Penawar ) Allah SWT telah mensifatkan bahwa Al-Qur’an yang diturunkan kepada umat manusia melalui perantara Nabi Muhammad SAW sebagai penawar dan penyembuh.Bila disebut penawar tentu ada kaitannya dengan penyakit.Dalam Tafsir Ibnu Katshir dinyatakan bahwa Al-Qur’an adalah penyembuh dari penyakit-penyakit yang ada dalam hati manusia seperti syirik, sombong, ragu dan sebagainya. Dalam hal ini diterangkan dalam Al-Qur’an surat Yunus ayat 57,

               yang artinya: ”Wahai manusia! Sungguh, telah Kami datangkan kepadamu pelajaran (Al-Quran) dari Tuhanmu, penawar bagi penyakit yang ada di dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.“. 6

6. Al-Haq (Benar) Al-Qur’an dinamakan dengan Al-Haq karena dari awal hingga akhirnya, kandungan Al-Qur’an adalah semuanya benar.Kebenaran ini adalah datang daripada Allah yang mencipta manusia dan mangatur sistem hidup manusia dan Dia Maha mengetahui segala-galanya. Oleh karena itu, ukuran dan pandangan dari Al-Qur’an adalah sesuatu yang sebenarnya mesti diikuti dan dijadikan prioritas yang paling utama dalam mempertimbangkan sesuatu. Sesuai firman Allah yang artinya:

         “Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali engkau (Muhammad) termasuk orang orang yang ragu.” (Al-Baqarah: 147).

7. Ar-Ruh ( Roh ) Allah SWT telah menamakan wahyu yang diturunkan kepada Rasulnya sebagai roh.Sifat roh adalahmenghidupkan sesuatu. Seperti jasad manusia tanpa roh akan mati, busuk dan tidak berguna. Dalam hubungan ini, menurut ulama, Al-Qur’an mampu menghidupkan hati-hati yang mati sehingga dekat dengan Penciptanya. Sesuai firman Allah, yang artinya :

          Yang artinya, “Dan kami wahyukan (perintahkan) kepada Musa: "Pergilah di malam hari dengan membawa hamba-hamba-Ku (Bani Israil), Karena Sesungguhnya kamu sekalian akan disusuli" (AsySyu’ara:52)

8. Al-Busyraa ( Berita Gembira ) Al-Quran sering menceritakan khabar gembira bagi mereka yang beriman kepada Allah dan menjalani hidup menurut kehendak dan jalan yang telah diatur oleh Al-Qur’an.Khabar-khabar ini menyampaikan

7

pengakhiran yang baik dan balasan yang menggembirakan bagi orangorang yang patuh dengan isi Al Qur’an.Terlalu banyak janji-janji gembira yang pasti dari Allah untuk mereka yang beriman dengan ayatayat-Nya. Hal ini telah dikemukakan dalam Al Qur’an Surat An Nahl ayat 89                          

   yang artinya : “Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami bangkitkan setiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan engkau (Muhammad) menjadi saksi atas mereka. Dan Kami turunkan Kitab (Al-Quran) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (muslim).”

9. Al-Bayaan (Keterangan) Al-Quran adalah kitab yang menyatakan keterangan dan penjelasan kepada manusia tentang apa yang baik dan buruk untuk mereka. Menjelaskan antara yang haq dan yang batil, yang benar dan yang palsu, jalan yang lurus dan jalan yang sesat.Selain itu Al-Qur’an juga menerangkan kisah-kisah umat terdahulu yang pernah mengingkari perintah Allah lalu ditimpakan dengan berbagai azab yang tidak terduga. Sesuai dengan firman Allah,

      

8

yang artinya : “Inilah (Al-Quran) suatu keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk kepada seta pelajaran bagi orangorang yang bertakwa.” (Ali-Imran: 138 )

10. Ar-Rahmah (Rahmat) Allah menamakan Al-Qur’an dengan rahmat karena dengan AlQur’an ini akan melahirkan iman danhikmah. Bagi manusia yang beriman dan berpegang kepada Al-Qur’an ini mereka akan mencari kebaikan dan cenderung kepada kebaikan tersebut. Sesuai firman Allah yang artinya:             

   “Dan Kami turunkan dari Al-Quran (sesuatu) yang menjadi penawar serta rahmat bagi orang-orang yang beriman, sedangkan bagi orangorang yang zalim (Al-Quran itu) hanya akan menambah kerugian.“ (AlIsra:82).

9

2.2 SEJARAH TURUN DAN PENYUSUNAN AL-QUR’AN

1. Sejarah Singkat Turunnya Al-Quran

Wahyu pertama turun pada saat Nabi SAW berusia 40 tahun di saat beliau sedang bermeditasi di Gua Hira (17 Ramadhan). Wahyu berikutnya turun 3 tahun kemudian. Urut-urutan Surat yang terdapat dalam Al-Quran bukan berdasarkan urutan turunnya ayat-ayat tersebut. Surat pertama yang diwahyukan adalah Al-‘Alaq (QS: 96) dan yang turun terakhir adalah An-Nasr (QS: 110), sedangkan ayat terakhir yang diturunkan adalah ayat 3 dari surat AlMaaidah. Sedangkan surat pertama yang terdapat dalam Al-Quran adalah AlFatihah (QS: 1) dan yang terakhir An-Nas (QS: 114). Urutan-urutan dalam AlQuran tersebut semata-mata berdasarkan petunjuk dari Allah SWT kepada Nabi SAW. Al-Quran diturunkan tidak secara sekaligus tapi secara berangsurangsur. Di Mekah selama 13 tahun dan di Madinah 10 tahun. Terbagi menjadi ayat-ayat Makkiyyah (19/30 = 86 surat) dan Madaniyyah (11/30 = 28 surat). Sebenarnya, malaikat Jibril telah menyampaikan firman-firman Allah atau Al Qur’an kepada Nabi Muhammad dengan beberapa cara. Berikut ini adalah beberapa cara turunnya Al Qur’an kepada Nabi Muhammad saw.

• Malaikat Jibril memasukkan wahyu itu ke dalam hati Nabi Muhammad saw. tanpa memperlihatkan wujud aslinya. Rasulullah tiba-tiba saja merasakan wahyu itu telah berada di dalam hatinya.

• Suatu ketika, malaikat Jibril juga pernah menampakkan dirinya sebagai seorang laki-laki dan mengucapkan kata-kata di hadapan Nabi saw. Itulah salah satu metode lain yang digunakan malaikat Jibril untuk menyampaikan Al Qur’an kepada Nabi Muhammad saw. • Yang selanjutnya, wahyu juga turun kepada Nabi Muhammad saw. seperti bunyi gemerincing lonceng. Menurut Rasulullah, cara inilah yang paling berat

10

dirasakan, sampai-sampai beliau mencucurkan keringat meskipun wahyu itu turun di musim yang sangat dingin. • Cara yang lain adalah malaikat Jibril turun membawa wahyu kepada Nabi Muhammad saw. dengan menampakkan wujudnya yang asli. Rasulullah saw. senantiasa menghafalkan setiap wahyu yang diterimanya. Beliau mampu mengulangi wahyu tersebut dengan tepat, sesuai dengan apa yang telah disampai kan oleh malaikat Jibril. Dalam hal ini, malaikat Jibril juga berperan untuk mengontrol hafalan Al Qur’an Rasulullah saw. Al Qur’an diturunkan dalam dua periode. Periode pertama dinamakan Periode Mekah. Turunnya Al Qur’an pada periode pertama ini terjadi ketika Nabi saw. bermukim di Mekah (610 – 622 M) sampai Nabi Muhammad saw. melakukan hijrah. Ayat-ayat yang diturunkan pada masa itu, kemudian disebut dengan ayat-ayat Makiyah, yang berjumlah 4.726 ayat dan terdiri atas 89 surat. Periode yang kedua adalah Periode Madinah. Sebuah periode yang terjadi pada masa setelah Nabi Muhammad saw. hijrah ke Madinah (622 – 632 M). Ayat-ayat yang turun dalam periode ini kemudian dinamakan ayat-ayat Madaniyah, meliputi 1.510 ayat dan mencakup 25 surat. Ayat-ayat Makiyah maupun Madaniyah yang terdapat dalam Al Qur’an memiliki beberapa perbedaan yang menjadi ciri khas. Berikut ini adalah ciri-ciri yang terdapat pada kedua kategori ayat tersebut. 2. Penulisan Al-Qur'an dan perkembangannya Penulisan (pencatatan dalam bentuk teks) Al-Qur'an sudah dimulai sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Kemudian transformasinya menjadi teks yang dijumpai saat ini selesai dilakukan pada zaman khalifah Utsman bin Affan. a. Pengumpulan Al-Qur'an pada masa Rasullulah SAW Pada masa ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup, terdapat beberapa orang yang ditunjuk untuk menuliskan Al Qur'an yakni Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Talib, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Ubay bin Kaab. Sahabat yang lain juga kerap menuliskan wahyu tersebut walau tidak

11

diperintahkan. Media penulisan yang digunakan saat itu berupa pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Di samping itu banyak juga sahabat-sahabat langsung menghafalkan ayat-ayat Al-Qur'an setelah wahyu diturunkan. b. Pengumpulan Al-Qur'an pada masa Khulafaur Rasyidin 1. Pada masa pemerintahan Abu Bakar Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, terjadi beberapa pertempuran (dalam

perang

yang

dikenal

dengan

nama perang

Ridda)

yang

mengakibatkan tewasnya beberapa penghafal Al-Qur'an dalam jumlah yang signifikan. Umar bin Khattabyang saat itu merasa sangat khawatir akan keadaan tersebut lantas meminta kepada Abu Bakar untuk mengumpulkan seluruh tulisan Al-Qur'an yang saat itu tersebar di antara para sahabat. Abu Bakar lantas memerintahkan Zaid bin Tsabit sebagai koordinator pelaksaan tugas tersebut. Setelah pekerjaan tersebut selesai dan Al-Qur'an tersusun secara rapi dalam satu mushaf, hasilnya diserahkan kepada Abu Bakar. Abu Bakar menyimpan mushaf tersebut hingga wafatnya kemudian mushaf tersebut berpindah kepada Umar sebagai khalifah penerusnya, selanjutnya mushaf dipegang oleh anaknya yakni Hafsah yang juga istri Nabi Muhammad SAW. 2. Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan Pada masa pemerintahan khalifah ke-3 yakni Utsman bin Affan, terdapat keragaman dalam cara pembacaan Al-Qur'an (qira'at) yang disebabkan oleh adanya perbedaan dialek (lahjah) antar suku yang berasal dari daerah berbeda-beda. Hal ini menimbulkan kekhawatiran Utsman sehingga ia mengambil kebijakan untuk membuat sebuah mushaf standar (menyalin mushaf yang dipegang Hafsah) yang ditulis dengan sebuah jenis penulisan yang baku. Standar tersebut, yang kemudian dikenal dengan istilah cara penulisan (rasam) Utsmani yang digunakan hingga saat ini. Bersamaan dengan standardisasi ini, seluruh mushaf yang berbeda dengan standar yang dihasilkan diperintahkan untuk dimusnahkan (dibakar).

12

Dengan proses ini Utsman berhasil mencegah bahaya laten terjadinya perselisihan di antara umat Islam pada masa depan dalam penulisan dan pembacaan Al-Qur'an. Menurut Syaikh Manna' Al-Qaththan dalam Mahabits fi 'Ulum Al Qur'an, keterangan ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Utsman telah disepakati oleh para sahabat. Demikianlah selanjutnya Utsman mengirim utusan kepada Hafsah untuk meminjam mushaf Abu Bakar yang ada padanya. Lalu Utsman memanggil Zaid bin Tsabit Al-Anshari dan tiga orang Quraish, yaitu Abdullah bin Az-Zubair, Said bin Al-Ash dan Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam. Ia memerintahkan mereka agar menyalin dan memperbanyak mushaf, dan jika ada perbedaan antara Zaid dengan ketiga orang Quraish tersebut, hendaklah ditulis dalam bahasa Quraish karena Al Qur'an turun dalam dialek bahasa mereka. Setelah mengembalikan lembaran-lembaran asli kepada Hafsah, ia mengirimkan tujuh buah mushaf, yaitu ke Mekkah, Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah, Kufah, dan sebuah ditahan di Madinah (mushaf al-Imam)

13

2.3 FUNGSI AL-QUR’AN DALAM KEHIDUPAN DI DUNIA

Bila dilihat dari awal diturunkannya Al-Quran kepada manusia adalah untuk membawa manusia keluar dari masa kebodohan (jahiliyah) menuju masa yang lebih terang tentang mengapa manusia diciptakan dan untuk apa manusia hidup. Al – Quran memiliki beberapa nama sebagaimana fungsinya. 1. Al-Furqon Al-Furqan artinya yang membedakan, Al–Quran membedakan antara yang benar dan yang salah, antara yang baik dengan yang buruk, yang haq dengan yang batil. Al – Quran menuntun manusia untuk melakukan segala sesuatu yang baik dan menjauhi segala sesuatu yang buruk. Salah satu isi pokok dalam Al-Quran adalah menceritakan kisah-kisah lampau. Kisah-kisah yang harus kita ambil pelajaran di dalamnya. Salah satu kisah yang sering di ceritakan oleh Al-Quran adalah kisah nabi Musa dan ke sesatan fir’awn. Secara Implisit Allah menerangkan kepada manusia perbuatan apa saja yang tidak boleh dilakukan manusia dari sifat firawn yang diceritakannya. Pada zaman sekarang terkadang sesuatu yang dianggap salah bisa dianggap benar, sesuatu yang dianggap buruk bisa dianggap baik, bahkan sesuatu yang jelek bisa bisa menjadi biak jika mayoritas orang berkata demikian. Berbohong adalah salah satu budaya baru yang terdapat di lingkungan karena kebanyakan orang melakukan hal tersebut dan kita sering melakukan hal itu maka berbohong tidaklah lagi menjadi perbuatan yang buruk. Al Quran sebagai Al-Furqan menjelaskan batasan tentang yang sebenarnya benar itu adalah benar dan yang sebenarnya salah itu adalah adalah salat. Orangorang yang mengikuti Al Quran tidak akan terjebak dengan opini publik atau budaya masyarakat yang menjungkir balikan aturan yang sudah teratur sebelumnya. Umat manusia akan tetap berada di jalan yang benar ketika kita mengikuti aturan yang di terangkan oleh Al – Quran.

14

2. Al-Huda Al Huda yang berarti petunjuk hidup. Sebagai

hudá, Al-Qur’an

merupakan aturan yang harusdiikuti tanpa tawar menawar sebagaimana papan petunjuk arah jalan yang dipasang di jalan-jalan. Kalau seseorang tidak mengetahui arah jalan tetapi sikapnya justeru mengabaikan petunjuk yang ada pada papan itu, maka sudah pasti ia akan tersesat. Sesuai dengan surah Ar-Rad ayat 37.

                     Yang artinya, “Dan Demikianlah, kami Telah menurunkan Al Quran itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab . dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, Maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah” (Q.S. 13:37) Petunjuk

yang

ada

pada

Al-Qur’an

benar-benar

sebagai

ciptaan

Allah bukan cerita yang dibuat-buat, semua ayatnya harus menjadi rujukan termasuk dalam mengelola bumi. Sesuai dengan surah Yusuf ayat 111

                          Yang artinya, “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan

15

menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman” (QS. 12:111). Dengan menggunakan kedua macam hukum secara beriringan yakni hukum alam dan hukum Al-Qur’an, ditujukan antara lain untuk menampakkan kejayaan Islam dan mengalahkan segenap tata aturan ciptaan manusia (liyudlhirah ‘aláddini kullih) sebagaimana ditunjukkan oleh kemenangan negeri Madinah atas negeri Mekah yang Jahiliyah (futuhMekah). Supaya tujuan itu bisa dicapai maka hukum Allah (Al-Qur’an) harus benar-benar dijadikan undang-undang oleh para khalifah fil ardl dalam mengelola bumi. 3. As-Syifa Al Quran juga merupakan As-syifayang berarti Al – Quran merupakan penyembuh. Al Quran bisa menjadi penyembuh langsung dan bisa juga sebagai penyembuh tidak langsung. Sebagai penyembuh langsung, Al Quran dapat menyembuhkan penyakit hati yang sedang dilanda oleh manusia. Penyakit hati yang sering di alami oleh manusia zaman sekarang adalah kesukaan kita untuk mengeluh. Menyalahkan segala sesuatu selain kita karena kegagalan yang kita alami. Padahal pada dasarnya, semua keberhasilan dan kegagalan itu berasal dari diri kita sendiri. Contoh yang sering kita alami adalah ketika kita mendapatkan hasil buruk dalam ujian. Hal pertama yang kita pikirkan adalah melemparkan semua masalah keluar, misalnya karena soalnya terlalu sulit, waktu pengerjaan yang terlalu sedikit atau apa yang diujikan tersebut tidak pernah diajarkan sebelumnya. Kita sibuk menyalahkan hal lain yang sebenarnya bukan masalah utama dari kegagalan kita. Sebenarnya Al-Quran telah menerangkan bahwa manusia adalah tempatnya salah. Maka manusia yang baik adalah manusia yang terus memperbaiki dirinya. Dari nilai tersebut kita dapat belajar bahwa yang sebenarnya salah itu adalah diri kita sendiri. Misalkan karena kita tidak belajar dengan sungguh–sungguh. Bila memang apa yang kita lakukan sudah sangat keras menurut kita, coba tengok

16

teman kita yang lebih baik nilainya, mereka telah bekerja lebih keras lagi di bandingkan kita.

Al-Quran juga bisa disebut sebagai penyembuh tidak langsung. Saat AlQuran menerangkan tentang ilmu dunia ini. Manusia mencoba mencari tahu lebih lanjut tentang ilmu dunia yang telah di terangkan oleh Al-Quran tersebut. Hingga akhirnya manusia bisa menghasilkan sesuatu hasil penelitian mereka tentang dunia ini.

Contoh yang bisa kita ambil adalah tentang proses pembentukan manusia. Dari situ manusia dapat meneliti lebih lanjut ilmu Allah yang lebih dalam dari itu. Akhirnya manusia dapat mengetahui kapan sebenarnya bayi di kandung. Dari mana bayi mendapatkan makanan ketika dalam kandungan. Hingga saat ada sesuatu yang sebenarnya tidak harus terjadi seperti pertumbuhan bayi dalam kandungan tidak meningkat ataupun usia kandungan yang masih terlalu dini untuk melahirkan. Itu semua dapat di antisipasi oleh manusia karena telah mempelajari itu dan mencari tahu bagaimana mengatasinya. Tapi pada intinya, ilmu yang kini dimiliki manusia untuk mengobati itu adalah ilmu yang diberikan oleh Allah salah satunya melalui Al-Quran. Tapi pada umumnya Al-Quran Ibarat resep dokter, pasien sering sulit membaca resep dokter apa lagi memahaminya, akan

tetapi walaupun

begitu, pasien tetap percaya bahwa resep itu benar mustahil salah karena dokter diyakini tidak mungkin bohong. Inilah kebenaran otoritas. Demikian pula dengan Al-Qur’an, ia a adalah resep dari Allah yang sudah pasti benar dan mustahil salah karena Allah adalah Maha Benar. Dengan demikian walaupun ada beberapa ayat Al-Qur’an yang untuk sementara waktu belum dapat difahami oleh ratio, tak apa tetapi tetap harus dilaksanakan, sebab kalau menunggu dapat memahaminya secara penuh bisa keburu mati. Juga obat dari dokter kadang rasanya manis kadang pahit, tetapi dokter berpesan agar obat tersebut dimakan sesuai aturan dan sampai habis, sebab kalau tidak tepat aturan dan tidak sampai habis, penyakitnya tidak akan sembuh. Demikian pula dengan Al-Quran sebagai obat, tidak selalu harus sejalan dengan 17

perasaan (feeling) kemauan (willing) dan pikiran (thinking). Allah menghendaki agar seorang mukmin mengamalkan seluruhayat Al-Qur’an tanpa terkecuali. Pemilahan dan pemilihan ayat-ayat tertentu untuk diamalkan sedangkan ayat yang lainnya dibiarkan adalah sikap kufur (Nu’minubiba’dlinwanakfurubiba’dlin).

2.4 KANDUNGAN DAN POKOK-POKOK ISI AL-QUR’AN

1. Kandungan Isi Al-qur’an Al-qur’an sebagai sumber pertama dalam ajaran islam tentunya memiliki banyak sekali ajaran dan tuntunan maupun kisah-kisah yang dapat menjadi contoh dan pelajaran maupun peringatan bagi kaum-kaum setelahnya yang membaca dan mempelajari al-qur’an, secara garis besar, kanudngan isi alqur’an terbagi menjadi beberapa bagian yaitu: ‘Aqidah, Syari’ah, Akhlaq, kisah-kisah lampau, berita-berita yang akan datang, dan pengetahuanpengetahuan ilahi lainnya (Makhmud, 2001). a. ‘Aqidah Aqidah dalam bahasa arab berarti iman, sehingga secara umum semua system kepercayaan dapat dikatakan sebagai aqidah. ‘Aqidah (ُ‫ )اَﻟْﻌَﻘِﯿْﺪَة‬menurut bahasa Arab (etimologi) berasal dari kata al-‘aqdu (ُ‫)اﻟْﻌَﻘْﺪ‬ yang berarti ikatan, at-tautsiiqu(ُ‫ )اﻟﺘﱠﻮْﺛِﯿْﻖ‬yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-ihkaamu (ُ‫ )اْﻹِﺣْﻜَﺎم‬yang artinya mengokohkan (menetapkan), dan ar-rabthu biquw-wah (ُ‫ )ﺑِﻘُﻮﱠةٍ اﻟﺮﱠﺑْﻂ‬yang berarti mengikat dengan kuat. ‘Aqidah (ُ‫ )اَﻟْﻌَﻘِﯿْﺪَة‬menurut bahasa Arab (etimologi) berasal dari kata al-‘aqdu (ُ‫ )اﻟْﻌَﻘْﺪ‬yang berarti ikatan, at-tautsiiqu(ُ‫ )اﻟﺘﱠﻮْﺛِﯿْﻖ‬yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-ihkaamu (ُ‫ )اْﻹِﺣْﻜَﺎم‬yang artinya mengokohkan (menetapkan), dan ar-rabthu biquw-wah (ُ‫ )ﺑِﻘُﻮﱠةٍ اﻟﺮﱠﺑْﻂ‬yang berarti mengikat dengan kuat. ‘Aqidah jika dilihat dari sudut pandang sebagai ilmu -sesuai konsep Ahlus Sunnah wal Jama’ah- meliputi topik-topik: Tauhid, Iman, Islam, masalah ghaibiyyaat (hal-hal ghaib), kenabian, takdir, berita-berita (tentang hal-hal yang telah lalu dan yang akan datang), dasar-dasar hukum 18

yang qath’i (pasti), seluruh dasar-dasar agama dan keyakinan, termasuk pula sanggahan terhadap ahlul ahwa’ wal bida’ (pengikut hawa nafsu dan ahli bid’ah), semua aliran dan sekte yang menyempal lagi menyesatkan serta sikap terhadap mereka. Masalah Aqidah ini yang dapat disebut juga dengan tauhid dibagi menjadi 3 yaitu tauhid Al-Uluhiyyah, tauhid Ar-Rububiyyah dan tauhid Al-asma’was-sifat.Tauhid Al-Uluhiyyah, Qs.al-fatihah ayat 4:

    “4. Yang menguasai di hari Pembalasan.” 

dan Qs.an-naas ayat 3:

   “3. Sembahan manusia.” mengesakan Allah dalam ibadah, yakni beribadah hanya kepada Allah dan karenaNya semata.Tauhid Ar-Rububiyyah, Qs. al-fatihah ayat 2,

     2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. dan An-nas ayat 1

     Katakanlah: "Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.

mengesakan Allah dalam perbuatan-Nya, yakni mengimani dan meyakini bahwa hanya Allah yang mencipta, menguasai dan mengatur

19

alam semesta ini.Tauhid Al-Asma' was-Sifat, mengesakan Allah dalam asma dan sifat-Nya, artinya mengimani bahwa tidak ada makhluk yang serupa dengan Allah, dalam dzat, asma maupun sifat.

b. Syari’ah Syariah [arab: ‫ ]اﻟﺸﺮﯾﻌﺔ‬secara bahasa artinya jalan yang dilewati untuk menuju sumber air. Secara bahasa, kata syariat juga digunakan untuk menyebut madzhab atau ajaran agama. Atau dengan kata lebih ringkas, syariat berarti aturan dan undang-undang. Aturan disebut syariat, karena sangat jelas, dan mengumpulkan banyak hal. Ada juga yang mengatakan, aturan ini disebut syariah, karena dia menjadi

sumber

yang

didatangi

banyak

orang

untuk

mengambilnya.Namun, dalam perkembangannya, istilah syariat lebih akrab untuk menyebut aturan islam.Secara istilah, syariat islam adalah semua aturan yang Allah turunkan untuk para hamba-Nya, baik terkait masalah aqidah, ibadah, muamalah, adab, maupun akhlak. Baik terkait hubungan makhluk dengan Allah, maupun hubungan antar-sesama makhluk. (Tarikh Tasyri’ Al-Islami, Manna’ Qathan, hlm. 13). Allah berfirman, ‫ ﺛُﻢﱠ ﺟَﻌَﻠْﻨَﺎكَ ﻋَﻠَﻰ ﺷَﺮِﯾﻌَﺔٍ ﻣِﻦَ اﻟْﺄَﻣْﺮِ ﻓَﺎﺗﱠﺒِﻌْﻬَﺎ‬.c “Kemudian Aku jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), Maka ikutilah syariat itu…” (QS. Al-Jatsiyah: 18) Rincian syariat yang Allah turunkan, berbeda-beda antara satu umat dengan umat lainnya, disesuaikan dengan perbedaan waktu dan keadaan masing-masing umat. Dan semua syariat ini adalah adil ketika dia diturunkan. Meskipun demikian, bagian prinsip dalam syariat, tidak berbeda antara satu umat satu nabi dengan umat nabi lainnya.

d. Akhlak Akhlak secara terminologi berarti tingkah laku seseorang yang didorong

oleh

suatu

keinginan

secara

sadar

untuk

melakukan

20

suatu perbuatan yang baik. Akhlak merupakan bentuk jamak dari kata khuluk, berasal dari bahasa Arab yang berarti perangai, tingkah laku, atau tabiat. Tiga pakar di bidang akhlak yaitu Ibnu Miskawaih, Al Gazali, dan Ahmad Amin menyatakan bahwa akhlak adalah perangai yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu. Akhlak yang di dalam bahasa Indonesia disebut tingkah laku merupakan sikap yang diambil seseorang secara langsung dan tanpa berpikir dengan pertimbanganpertimbangan yang ada dan sikap ini bukan hanya disatu waktu saja melainkan secara berulang-ulang. Sikap dan tingkah laku ini juga di dorong oleh motivasi dalam diri unutk melakukan suatu hal bak secara sadar maupun tidak sadar. Akhlak atau sikap juga memiliki beberapa kriteria agar dapat dikatakan bahwa hal tersebut adalah benar bagi seseorang, yaitu perbuatan yang dilakukan adalah baik atau buruk, memiliki kemampuan untuk melakukan perbuatan, sadar akan apa yang ia perbuat pada saat melakukan hal tersebut, dan memiliki kondisi jiwa yang cenderung memiliki arah untuk condong kesatu arah antara baik atau buruk. Hal ini disyaratkan karena terkadng manussia dapat tidak terkontrol jika kehilangan akalnya dan melakukan banyak hal yang diluar dari sikap dan akhlak yang biasa dilakukan oleh manusia tersebut.

e. Kisah-Kisah Lampau dan yang akan Datang Alqur’an tidak hanya berisi perintah-perintah tentang bagaimana cara beribadah juga tentang hokum-hukum dalam islam, tetapi mirip dengan kitab-kitab pada agama ibrahimiah, Al-qur’an juga berisi tentang kisah-kisah yang bertempat di masa lampau dengan tujuan agar dapat menjelaskan asas dan dasar-dasar dakwah dalam agama islam dan menjelaskan pokok-pokok syari’at islam, juga untuk meneguhkan hati para kaum muslim yang membacanya agar selalu ingat bahwa Allah senantiasa bersama mereka dan untuk menyibak kebohongan-kebohongan ahli kitab terhadap apa yang mereka sembunyikan.Secara garis besar,

21

ksah-kisah yang terdapat dalam al-Qur’an dibedakan menjadi tiga bagian, dengan pembagian sebagai berikut;

a. Kisah para nabi, kisah ini bercerita mengenai dakwah mereka kepada umatnya, mu’jizat-mu’jizat yang diberikan Allah kepadanya, sikap dan reaksi orang yang menentag dakwahnya, tahapan dakwah serta akibatakibat yang diterima mereka dari orang-orang yang mempercayai dan menentangnya. Kisah-kisah ini bayak diceritakan al-Qur’an seperti kisah tentang Nabi Adam pada surah Al-Baqarah 30-39:

                                                                                                                       22

                                                                 Yang artinya: “30. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” 31. Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar! 32. Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang Telah Engkau ajarkan kepada Kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana[35]."33. Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"34. Dan

23

(Ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. 35. Dan kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. 36. Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan." 37. Kemudian Adam menerima beberapa kalimat[40] dari Tuhannya, Maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. 38. Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, Maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati". 39. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.(Q.S. Al-Baqarah: 30-39).

Kisah tentang Nabi Ibrahim Pada surah Al-Baqarah ayat 124 dan 132 juga Al-An’am 74-83

                        Yang artinya: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diujiTuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari

24

keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim".”(Q.S. Al-Baqarah 124)

                 Yang artinya : “ Dan Ibrahim Telah mewasiatkan Ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anakanakku! Sesungguhnya Allah Telah memilih agama Ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam".” (Q.S. AlBaqarah 132) b. Kisah-kisah yang berhubungan dengan peristiwa yang terjadi pada masa lalu, dan orang-orang yang tidak dipastikan kenabiannya. Diantara kisah ini adalah kisah tentang Luqman (QS. Luqman: 12-13),

                            

         Yang artinya: “12. Dan Sesungguhnya Telah kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".13. Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai

25

anakku,

janganlah

kamu

mempersekutukan

Allah,

Sesungguhnya

mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".” (Q.S. Luqman 12-13) c. Kisah-kisah yang terjadi pada masa Rosulullah Muhammad SAW, seperti kisah tentang Ababil (QS. Al-Fil: 1-5),             

                Yang artinya:“1.

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana

Tuhanmu Telah bertindak terhadap tentara bergajah? 2. Bukankah dia Telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah) itu sia-sia?3.

Dan dia mengirimkan kapada mereka burung yang

berbondong-bondong,4. Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar,5. Lalu dia menjadikan mereka seperti daundaun yang dimakan (ulat).” (Q.S. Al-Fil 1-5) kisah tentang peristiwa hijrah (QS. Muhammad: 13) .             

   Yang artinya: 13. Dan betapa banyaknya negeri yang (penduduknya) lebih Kuat dari pada (penduduk) negerimu (Muhammad) yang Telah mengusirmu itu. kami Telah membinasakan mereka, Maka tidak ada seorang penolongpun bagi mereka. (Muhammad ayat 13)

26

f. Pengetahuan-pengeahuan Ilahi Selain berbagai ayat-ayat tentang aturan, kisah dan keesaan Allah, banyak juga ayat-ayat yang merupakan ilmu pengetahuan bagi manusia, dalam hal ini pengetahuan yang diberikan tidaklah mendetail tetapi awal dan akhir dari pengetahuan tersebut dan merupakan tugas manusia untuk menguak kebenaran dan ilmu tentang hal ini. Diantara ayat-ayat ini contohnya adalah tentang penciptaan alam semesta pada surah AlAn’aam:101,

                      Yang artinya: “101.

Dia Pencipta langit dan bumi. bagaimana dia

mempunyai anak padahal dia tidak mempunyai isteri. dia menciptakan segala sesuatu; dan dia mengetahui segala sesuatu.”(Al-An’aam:101) bagaimana bahwa alam semesta itu mengembang pada surah Ad-Dzariyaat ayat 47,

      Yang artinya : “47. Dan langit itu kami bangun dengan kekuasaan (kami) dan Sesungguhnya kami benar-benar berkuasa.” (Ad-Dzariyaa ayat 47)

bagaimana bumi dan matahari memiliki garis edar sendiri dan tidak akan bertabrakan pada surah 21 ayat 33,

27

             Yang artinya: “33. Dan dialah yang Telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” benuk planet bumi yang bulat pada surah 39 ayat 5, dan masih banyak lagi tentang ayat-ayat ini. Dan tugas manusia lah untuk membuktikan dan mencari kelanjutan dari pengetahuan ini sehingga manusia dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaannya kepada Allah swt.

28

2.5 PEMBUKTIAN KEBENARAN AYAT AL-QURAN DALAM PERSPEKTIF SAINS DAN TEKNOLOGI

1. Fakta tentang besi Besi adalah salah satu logam berat yang sangat bermanfaat bagi kehidupan. Dalam Alquran surat Al Hadiid ayat 25 menjelaskan bahwa Allah menurunkan besi yang memiliki kekuatan hebat dan memiliki banyak manfaat bagi manusia.

                               “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka

Alkitab

dan

neraca

(keadilan)

supaya

manusia

dapat

melaksanakan keadilan. Dan Kami turunkan (anzalnaa) besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya, padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.” Dalam ayat ini, kata “anzalnaa” memiliki arti “kami turunkan” digunakan untuk menunjuk besi. Apabila diartikan secara kiasan kata “anzalnaa” menjelaskan bahwa besi diciptakan untuk memberi manfaat bagi manusia.

29

Apabila mengartikan kata itu secara harfiah, yakni “secara bendawi diturunkan dari langit”, maka diperoleh arti bahwa besi diturunkan dari langit. Beberapa ilmuwan telah berhasil membuktikan kebenaran ayat itu. Partikel besi tidak berasal dari bumi melainkan berasal dari benda-benda luar angkasa. Paling tidak, terdapat sembilan ayat dalam Alquran yang membahas tentang besi:

                           “Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya).” (QS An-Nahl: ayat 81) 2. Fakta penciptaan berpasang-pasangan Surat Yaasin ayat 36 menjelaskan, Allah menciptakan segala sesuatu secara berpasang-pasang. Dalam ayat lain, Allah juga berfirman

        “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.” (QS Adz-Zaariyat: 49).

30

Menurut ayat ini, Allah menciptakan yang berpasangan tidak hanya manusia, melainkan segala sesuatu yang tumbuh dari bumi dan berbagai partikel yang tidak terlihat mata. Seorang ilmuwan asal Inggris, Paul Dirac, berhasil melakukan penelitian yang membuktikan bahwa materi diciptakan secara berpasangan. Penemuannya dinamakan ‘Parite. Dia memperoleh Nobel di bidang fisika pada tahun 1933 karena penemuannya itu. 3. Fakta tentang garis edar tata surya Matahari, planet, satelit dan benda langit lainnya bergerak dalam garis edarnya masing-masing. Alquran surat Al Anbiya ayat 33 dan surat Yaasin ayat 38 menjelaskan mengenai fakta ilmiah itu dan terbukti kebenaranya. Banyak ayat dalam Alquran yang menjelaskan tentang alam semesta dan tata surya. Beberapa di antaranya seperti:

             “Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (QS Al Anbiya:33).

          “Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS Yaa Siin: 38). Pengamatan astronomi telah membuktikan kebenaran fakta ini. Menurut ahli astronomi, matahari bergerak sangat cepat dengan kecepatan mencapai 720 ribu km per jam ke arah bintang Vega dalam sebuah garis edar yang dinamakan Solar Apex.

31

Selain matahari, semua planet dan satelit dalam sistem gravitasi matahari juga berjalan menempuh jarak ini. Semua bintang yang ada di alam semesta juga berada dalam suatu gerakan serupa. 4. Fakta tentang penciptaan manusia dalam 3 tahap Dalam Alquran surat Az Zumar ayat 6 dijelaskan, manusia diciptakan dalam tubuh ibunya dalam tiga tahapan. “Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya isterinya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan Yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?” Perkembangan ilmu Biologi modern telah berhasil mengungkap petunjuk dari ayat itu. Pertumbuhan bayi di dalam rahim melewati tiga tahap (tiga kegelapan). Alquran menggunakan istilah ‘kegelapan’ karena memang proses penciptaan manusia dalam perut ibu terjadi di dalam rahim yang gelap. Tahaptahap itu, pertama, tahap Pre-embrionik, zigot tumbuh membesar melalui pembelahan sel kemudian menjadi segumpalan sel yang membenamkan diri pada dinding rahim. Seiring pertumbuhan zigot, sel-sel penyusunnya mengatur diri mereka sendiri untuk membentuk tiga lapisan. Kedua, tahap Embrionik yang berlangsung lima setengah minggu. Bayi pada tahap ini disebut “embrio”. Organ dan sistem tubuh bayi juga mulai terbentuk. Ketiga tahap fetus yang dimulai sejak kehamilan bulan 8 hingga lahir. Pada tahap ini bayi telah menyerupai manusia dengan wajah, kedua tangan dan kakinya. 5. Fakta tentang jenis kelamin bayi Hasil penemuan ilmu genetika abad 20 menjelaskan bahwa jenis kelamin seorang bayi ditentukan oleh air mani dari pria. Dalam air mani pria terdapat

32

kromosom x yang berisi sifat-sifat kewanitaan dan kromosom y berisi sifat kelaki-lakian. Sedangkan dalam sel telur wanita hanya mengandung kromosom x yang mengandung sifat-sifat kewanitaan. Jenis kelamin seorang bayi tergantung pada sperma yang membuahi, apakah mengandung kromosom x atau y. Alquran telah menjelaskan fakta itu dalam surat An Najm ayat 45-46,

           “Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita, dari air mani, apabila dipancarkan.” Sebelum penemuan itu diperoleh, masyarakat menganggap bahwa penentu jenis kelamin berasal dari wanita. 6. Fakta tentang sidik jari manusia Setiap manusia memiliki ciri sidik jari yang unik dan berbeda antara satu orang dengan lainnya. Keunikan sidik jari baru ditemukan pada abad 19. Sebelum penemuan itu, sidik jari hanya dianggap sebagai lengkungan biasa yang tidak memiliki arti. Alquran surat Al Qiyaamah ayat 3-4 menjelaskan tentang kekuasaan Allah untuk menyatukan kembali tulang belulang orang yang telah meninggal, bahkan Allah juga mampu menyusun kembali ujung-ujung jarinya dengan sempurna. QS Al Qiyamah ayat 3-4:

            

33

“Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?. Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.”. 7. Fakta tentang menyusui bayi selama 2 tahun Air susu ibu atau ASI sangat bermanfaat bagi bayi. ASI adalah sumber makanan terbaik bagi bayi dan mengandung zat yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Tidak ada susu buatan manusia yang mampu menandingi kualitas ASI. Alquran menganjurkan manusia untuk berbuat baik kepada ibu bapaknya, ibunya telah mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Surat ini menjelaskan bahwa waktu yang terbaik untuk memberikan ASI bagi seorang bayi adalah 2 tahun karena memberikan banyak manfaat. “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibubapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” 8. Fakta tentang relativitas waktu Albert Einstein pada awal abad 20 berhasil menemukan teori relativitas waktu. Teori ini menjelaskan bahwa waktu ditentukan oleh massa dan kecepatan. Waktu dapat berubah sesuai dengan keadaannya. Beberapa ayat dalam Alquran juga telah megisyaratkan adanya relativitas waktu ini, di antaranya dalam Alquran surat Al Hajj ayat 47, surat As Sajdah ayat 5 dan Alquran surat Al Ma’aarij ayat 4.             

    34

“Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS Al Hajj: 47).

                   “Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS As Sajdah:5).

            “Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.” (QS Al Ma’arij:4). Beberapa ayat Alquran lainnya menjelaskan, manusia terkadang merasakan waktu secara berbeda, waktu yang singkat dapat terasa lama dan begitu juga sebaliknya. 9. Fakta tentang gunung Gunung tidak hanya memperindah pemandangan. Dikaji dari ilmu geologi, gunung berfungsi sebagai penyeimbang bumi dari goncangan. Gunung muncul karena tumbukan lempengan-lempengan raksasa yang membentuk kerak bumi. Ketika dua lempengan bertumbukan, lempengan yang lebih kuat menyelip ke bawah sedangkan lempengan yang lemah melipat ke atas membentuk dataran tinggi dan gunung.

35

Alquran menjelaskan fungsi gunung dalam beberapa ayat di antaranya dalam surat Al Anbiyaa ayat 21 dan surat An Naba’ ayat 6-7. Gunung diibaratkan sebuah paku yang menjadikan lembaran kayu tetap saling menyatu.            

   “Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.” (QS Al Anbiya:31)

        “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gununggunung sebagai pasak?” (QS An Naba’: 6-7). 10. Fakta tentang dasar lautan yang gelap Manusia tidak mampu menyelam di laut dengan kedalaman di bawah 40 meter tanpa peralatan khusus. Dalam sebuah buku berjudul Oceans juga dijelaskan, pada kedalaman 200 meter hamper tidak dijumpai cahaya, sedangkan pada kedalaman 1000 meter tidak terdapat cahaya sama sekali. Kondisi dasar laut yang gelap baru bisa diketahui setelah penemuan teknologi canggih. Namun Alquran telah menjelaskan keadaan dasar lautan semenjak ribuan tahun lalu sebelum teknologi itu ditemukan. Alquran surat An Nur ayat 40 menjelaskan mengenai fakta ilmiah ini.

36

                                    “Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun.” (QS An Nuur: 40).

37

2.6 KELEBIHAN AL-QURAN DARI SEGALA KITAB

1. Kelebihan Al Qur’an Dibandingkan dengan kitab-kitab lain Al-Qur’an merupakan kitab suci terakhir yang diturunkan oleh Allah sWT kepada Nabi Muhammad SAW yang berisi firman-firman Allah SWT. Al-Qur’an diturunkan kepada nabi Muhammad SAW agar disampaikan kepada umat nabi Muhammad SAW, yaitu umat islam. Sebagai kitab suci yang terakhir, sudah barang tentu Al-Qur’an memiliki kelebihan-kelebihan dibandingkan dengan kitab suci yag diturunkan sebelumnya. 2. Kedudukan Al-Qur’an di antara Kitab-kitab Suci Lainnya Al-Qur’an merupakan kitab suci terakhir dan penutup dari kitab suci sebelumnya. Selain itu, Al-Qur’an juga merupakan hakim atas kitab-kitab suci sebelumnya. Allah Ta`ala berfirman yang artinya:

                                                          “Dan kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan muhaiminan (batu ujian) terhadap kitab-kitab yang 38

lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu…. ” (QS. Al-Maidah: 48). Al-Qur’an merupakan kitab suci paling panjang dan paling luas cakupannya. Rasulullah shallallahu `alahi wa sallam bersabda: “Saya diberi ganti dari Taurat dengan as-sab`ut thiwaal (tujuh surat dalam Al-Qur’an yang panjang-panjang). Saya diberi ganti dari Zabur dengan al-mi`iin (surat yang jumlah ayatnya lebih dari seratus). Saya diberi ganti dari Injil dengan al-matsani (surat yang terulangulang pembacaannya dalam setiap rekaat shalat) dan saya diberi tambahan dengan al-mufashshal (surat yang dimulai dari Qaf sampai surat anNaas).” (HR. Thabarani dan selainnya, dishahihkan sanadnya oleh al-Albani). Di antara perkara lain yang menjadi kekhususan Al-Qur’an dari kitab suci-kitab suci lainnya adalah penjagaan Allah terhadapnya. Allah Ta`ala berfirman yang artinya:

        “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9) Sekilas tentang Taurat: Allah Shubhanahu wa ta’ala memberi tanda pada Taurat, dengan pernyataan -Nya bahwa Taurat merupakan kitab suci teragung bagi Bani Israil yang diturunkan pada nabi Musa 'alaihi sallam, seperti ditegaskan dalam firman Allah dalam surat Al-Maidah : 44  

39

                                            "Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi)”. Dalam ayat lain Allah ta'ala menjelaskan tentang Taurat tersebut dengan firman -Nya:

                      "Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada lembaran-lembaran (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu". (QS alA'raaf: 145). Allah SWT juga menyebut tentang kitab Taurat dalam ayat yang lain, yaitu dalam surat Al-Araf : 154 yang artinya

                 "Sesudah amarah Musa menjadi reda, lalu diambilnya (kembali) lembaran-lembaran (Taurat) itu; dan dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya". 40

Tentang Injil: Injil adalah kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Isa a.s. Injil tersebut sifatnya sebagai pembenar apa yang ada didalam Taurat serta penyempurna dari kekurangan yang ada didalamnya. Allah ta'ala menjelaskan tentang Injil ini melalui firman-Nya dalam surat Al-Maidah : 46 yang artinya

                            "Dan Kami telah memberikan kepadanya kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu kitab Taurat. dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa".

Imam Ibnu Katsir menerangkan dalam tafsirnya, "Dan kami jadikan Injil sebagai petunjuk yang akan memberi petunjuk pada mereka serta pengajaran yakni peringatan bagi orang-orang yang menerjang keharaman serta perbuatan dosa".

Kitab Zabur: Dan berikutnya adalah kitab Zabur, yaitu kitab suci yang Allah turunkan kepada nabi Daud. Sebagaimana yang -Dia sebutkan dalam firman –Nya dalam surat An-Nisa : 163

41

                             "Dan Kami berikan Zabur kepada Daud". (QS an-Nisaa': 163). 3. Al-Qur’an merupakan kitab yang syamil Dalam hal ini, Al-Qur’an mencakup seluruh ajaran Allah yang ada pada kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya (Taurat, Injil, dan Zabur). Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Maidah:48.

                                                          “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, Yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap Kitab-Kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah

42

kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang”. Pada ayat di atas disebutkan bahwa Allah SWT memerintahkan kepada nabi supaya dalam memutuskan segala persoalan yang timbul di antara seluruh umat manusia ini dengan menggunakan hukum dari Al-Qur’an, baik orang-orang yang beragama Islam atau pun golongan ahlul kitab (kaum Nasrani dan Yahudi) dan jangan sampai mengikuti hawa nafsu mereka sendiri saja. Dijelaskan pula bahwa setiap umat oleh Allah SWT diberikan syariat dan jalan dalam hukum-hukum amaliah yang sesuai dengan persiapan serta kemampuan mereka. Adapun yang berhubungan dengan persoalan akidah, ibadah, adab, sopan santun serta halal dan haram, juga yang ada hubungannya dengan sesuatu yang tidak akan berbeda karena perubahan masa dan tempat, maka semuanya dijadikan seragam dan hanya satu macam, sebagaimana yang tertera dalam agama-agama lain yang bersumber dari wahyu Allah swt. Allah berfirman dalam surat As-Syura:13.

         “Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya”.

4. Ajaran-ajaran yang termuat dalam Al-Qur’an adalah kalam Allah yang terakhir Al-Qur’an merupakan kitab suci terakhir yang diturunkan oleh Allah SWT. Adapun tentang isi dalam Al-Qur’an, Allah telah menjamin akan

43

kesuciannya dan kemurniannya. Untuk memberikan petunjuk dan bimbingan yang benar kepada umat manusia, maka dari itu kita sebagai umat islam, mari kita jaga kitab al-Quran agar tidak dikotori oleh tangan-tangan yang hendak mengotori kesuciannya, hendak mengubah kemurniannya, hendak mengganti isi yang sebenarnya atau pun hendak menyusupkan sesuatu dari luar atau mengurangi kelengkapannya, seperti kitab-kitab sebelumnya. Oleh karena itu, Allah telah menyempurnakan kitab suci Al-Qur’an dan memelihara kitab Al-Qur’an. Allah berfirman dalam surat Al-Hijr: 9.

        Artinya:

“Sesungguhnya

Kami-lah

yang

menurunkan

Al

Quran,

dan

Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” Adapun tujuan menjaga dan melindungi Al-Qur’an dari kebatilan, kepalsuan dan pengubahan tidak lain hanya agar supaya hujah Allah akan tetap tegak di hadapan seluruh manusia, sehingga Allah swt dapat mewarisi bumi ini dan siapa yang ada di atas permukaannya”. Al-Qur’an dikehendaki oleh Allah akan kekekalannya Tidak mungkin pada suatu hari nanti akan terjadi bahwa suatu ilmu pengetahuan akan mencapai titik hakikat yang bertentangan dengan hakikat yang tercantum di dalam ayat Al-Qur’an Sebabnya tidak lain karena Al-Qur’an adalah firman Allah SWT. Sedangkan keadaan yang terjadi di alam semesta ini semuanya juga merupakan ciptaan Allah SWT. Dapat dipastikan bahwa firman dan amal perbuatan Allah tidak mungkin bertentangan antara yang satu dengan yang lain. Bahkan yang dapat terjadi ialah bahwa yang satu akan membenarkan yang lain. Dari sudut inilah, maka kita menyaksikan sendiri betapa banyaknya kebenaran yang ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern ternyata sesuai dan cocok dengan apa yang terkandung dalam Al-Qur’an. Jadi apa yang ditemukan

44

adalah memperkokoh dan merealisir kebenaran dari apa yang sudah difirmankan oleh Allah swt. sendiri.Firman Allah dalam surat Fushilat: 53

                     Artinya: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakkah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”. Tapi, perlu diketahui bahwa kitab-kitab terdahulu yang kita sebutkan diawal sudah banyak mengalami perubahan, penambahan serta pengurangan. Seperti yang telah Allah Shubhanahu wa ta’ala singgung dalam banyak ayat -Nya, dari ulah orang-orang Yahudi yang perilakunya memang seperti itu, sebagai kaum yang menerima Taurat, justru mereka tidak menjaganya. Allah ta'ala berfirman dalam surat Al-Maidah : 41.

                                                  

45

                          Artinya: "Dan di antara orang-orang Yahudi. (mereka itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. mereka mengatakan: "Jika diberikan ini (yang sudah di robah-robah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini maka hati-hatilah".

5. Melalui Al-Qur’an Allah SWT berkehendak supaya kalimat-Nya disiarkan dan disampaikan Allah SWT telah menciptakan Al-Qur’an dan menurunkannya melalui malaikat Jibril a.s kepada nabi Muhammad SAW agar disampaikan kepada semua umat manusia. Dalam Al-Qur’an berisi firman-firman Allah SWT. Melalui AlQur’an, Allah SWT berkehendak agar firman-firman Allah dapat disiarkan dan disampaikan agar manusia tidak hanya mendengar tetapi juga dapat berpikir sehingga menjadi suatu kenyataan dan perbuatan. Kehendak semacam ini tidak mungkin berhasil, kecuali jika kalimat-kalimat itu sendiri benar-benar mudah diingat, dihafal serta dipahami. Oleh karena itu Al-Qur’an sengaja diturunkan oleh Allah swt dengan suatu gaya bahasa yang istimewa, mudah, tidak sukar bagi siapapun untuk memahaminya dan tidak sukar pula mengamalkannya, asal disertai dengan keikhlasan hati dan kemauan yang kuat.

46

BAB 3 KESIMPULAN Kita perlu mengetahui/memahami bahwa sesungguhnya Al-Qur’an adalah sumber ajaran islam yang pertama/ Al-Qur’an itu adalah kita terbaik yang diturunkan melalui Jibril sebagai mukjizat Nabi Muhammad SAW dan merupakan kitab terakhir yang menjadi penyempurna kitab-kitab sebelumnya. Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk hidup umat islam. Semua kisah yang ada di dalam Al-Qur’an yang berkaitan dengan sejarah umat-umat terdahulu merupakan realitas yang bersifat pasti dan tidak diragukan lagi kebenarannya. Ayat-ayat Al-Qur’an juga bisa dibuktikan dengan sains. Banyak teori-teori ilmiah yang baru ditemukan pada abad 21 ternyata sudah ada dalam Al-Qur’an . Hal ini seharusnya menjadikan kita yakin bahwa Al’Quran merupakan kitab terakhir yang sempurna yang harus kita jadikan pedoman hidup. Adapun kandungan Al-Qur’an pada intinya adalah tentang aqidah, syariah, akhlak, dan sejarah umat-umat terdahulu. Pada intinya, kewajiban kita sebagai umat muslim adalah memahami Al-Qur’an dan menjalankan segala aturan-aturannya karena Al-Qur’an adalah pedoman hidup kita dan sumber ajaran islam yang pertama.

47

DAFTAR PUSTAKA 

Ahmad A.K. Muda. 2006. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Jakarta: Reality Publisher. Hal 45-50



Mubarak, Zakky, dkk. 2008. Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Terintegrasi, Buku Ajar II, Manusia, Akhlak, Budi Pekerti dan Masyarakat. Depok: Lembaga Penerbit FE UI.Hlm. 20-39



Anton Bakker. 1984. Metode-Metode Filsafat. Jakarta: Ghalia Indonesia.Hlm. 48



Http://file.upi.edu/direktori/fpips/m_k_d_u/195504281988031makhmud_syafe'i/alqur%92an_sebagai_sumber_nilai_islam_(4_halaman).pdf diakses tanggal 1 oktober 2014 pukul 01.40

48

LAMPIRAN

Curriculum Vitae

Anggota 1 A. Identitas Diri

1 Nama Lengkap (dengan gelar)

: Muslih Hakim

2 Jenis Kelamin

: laki-laki

3 Program Studi

: SITH-Rekayasa

4 NIM

: 198130124

5 Tempat dan Tanggal Lahir

: mojokerto, 20 juli 1995

6 E-mail

: [email protected]

7 Nomor Telepon / HP

: 085714545917

B. Riwayat Pendidikan

SD Nama Instansi

Jurusan Tahun Masuk – Lulus

SDIT Nur Fatahilah 2002-2007

SMP SMPIT Insan Harapan 2007-2010

SMA SMAN 2 Tangsel IPA 2010-2013

49

Anggota 2 A. Identitas Diri

1 Nama Lengkap (dengan gelar)

: Ganjar Abdillah Ammar

2 Jenis Kelamin

: Laki-laki

3 Program Studi

: SITH-Rekayasa

4 NIM

: 19813118

5 Tempat dan Tanggal Lahir

: Jakarta, 19 Mei 1995

6 E-mail

: [email protected]

7 Nomor Telepon / HP

: 089636505255

B. Riwayat Pendidikan

SD

SMP

SMA

Nama Instansi

SD Negeri Puspiptek

SMP Negeri 8 Tangsel

SMA Negeri 2 Tangsel

Jurusan

-

-

IPA

Tahun Masuk - Lulus

2001-2007

2007-2010

2010-2013

50

Anggota 3 Penulis bernama Mochammad Fadholi, dilahirkan di kota Indramayu Jawa Barat pada tangal 26 Januari 1995 dari ayah yang bernama Bujaeromi dan ibu bernama Idoh Chafidoh. Penulis merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara. Penulis menempuh pendidikan Sekolah Dasar di SD Negeri Karang Malang 1 pada tahun 2001 dan lulus pada tahun 2007. Kemudian penulis melanjutkan pendidikan di SMP Negeri Unggulan Sindang Indramayu pada tahun 2007 dan lulus pada tahun 2010. Setelah tamat SMP penulis hijrah ke kota Cirebon dan melanjutkan pendidikannya di SMA Negeri 1 Cirebon dan lulus pada tahun 2013. Setelah lulus SMA, penulis kembali hijrah ke kota Bandung dan melanjutkan pendidikannya di Institut Teknologi Bandung dengan fakultas yang diambilnya adalah Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati - Program Rekayasa. Penulis masih menempuh pendidikannya di Institut Teknologi Bandung sampai sekarang.

51

Anggota 4 Nama

:

Abi Dzar Siddiq

Alamat

:

Jalan Sudirman 35 Kec. Rancah Kab. Ciamis

Kode Post

:

46381

Nomor Telepon

:

081313189913

Email

:

[email protected]

Jenis Kelamin

:

Laki-laki

Tanggal Kelahiran

:

18 Desember 1995

Warga Negara

:

WNI

Agama

:

Islam

52

Anggota 5 NamaLengkap

: Dzikra Yuhasyra

NamaPanggilan

: Dzikra

NIM

: 11413019

Jurusan

: Rekayasa Pertanian (BA)

Angkatan

: 2013

Tempat, TanggalLahir

: Bandung, 16 Januari 1996

JenisKelamin

: Laki-laki

Agama

: Islam

No. HP / Telepon

: 081572523625 / (022) 7816127

Email

: [email protected]

Id Line

: dzikrayr

Id Facebook

: Dzikra Yuhasyra

Id Twitter

: @dzikrayr

Alamat

: Jalan Cigending No. 104 RT 04 RW 08, Ujung berung, Bandung

53

Anggota 6 Data Pribadi Nama

: Rifki Muhammad Rizki

Tempat, Tanggal lahir

: Cianjur, 20Agustus 1994;

Agama

: Islam;

Alamat

: Jl. Cisitu lama Gg V. No 42B, kel. Dago, Kec. Coblong, Kota Bandung

Nomer telepon

: 087820251801(mobile phone);

Email

: [email protected]

Riwayat Pendidikan Ø Pendidikan Formal: 

2013 sampai dengan sekarang

:Jurusan Rekayasa Hayati, Fakultas

Sience dan Teknologi Hayati, Institute Teknologi Bandung 

2012 sampai dengan 2013

:Jurusan Teknik Kimia, Prodi teknik

kimia, Politeknik Negeri Bandung 

2009 sampai dengan 2012

:SMA Negeri 1 Cianjur



2006 sampai dengan 2009

:SMP Negeri 1 Karang Tengah



2000 sampai dengan 2006

:SD Negeri Ciherang Kencana



1999 sampai dengan 2000

:TK Dewi Sartika

54

Anggota 7 Nama Lengkap

: Muhammad Triono

Nama panggilan

: Iyo

TTL

: Jakarta, 1 september 1994

Alamat rumah

: Jl. Kelapa muda no. 43, rt.012/03 kel. Jagakarsa, kec. Jagakarsa, Jakarta selatan

Alamat kost

: Asrama ITB jatinangor

Riwayat pendidikan : - TK AL-KAUTSAR JAGAKARSA - SDN 04 PG JAGAKARSA - SMP NEGERI 175 JAKARTA - SMA NEGERI 38 JAKARTA Pengalaman Organisasi : - Rohani Islam SMAN 38 jagakarsa - JASCOM (Jagakarsa Student Community) - Wakil ketua acara Maulid Nabi SAW SMAN 38 tahun 2011 - Anggota Karya Ilmiah Remaja SMAN 38

55

View more...

Comments

Copyright © 2017 ZILADOC Inc.